MAKAN SIANG BERSAMA SEORANG ATHEIS
oleh Webmaster
Seorang laki-laki yang duduk di sebelah saya berkata, "Saya tidak percaya keberadaan Tuhan, sesungguhnya agama telah menipu manusia, sejak kecil kita dipaksa oleh orangtua dan lingkungan untuk takut kepada sesuatu yang disebut ‘Tuhan’, neraka ataupun surga." Perkataan orang ini membuat saya berhenti menyantap makanan sesaat lamanya, menu makan siang yang memang dari awal tidak sesuai dengan selera saya ini menjadi semakin terasa hambar di lidah. Saya sebetulnya tidak tertarik berbicara dengan orang ini apalagi menanggapi pembicaraannya, tapi sialnya hari itu saya kebetulan duduk di sebelahnya, tepatnya dia yang mendekat duduk di sebelah saya. Padahal saya jarang sekali makan siang di kantin perusahaan. Sesaat tadi saya sedang memikirkan kenapa saya masih duduk di kantin ini dan makan hidangan yang tidak saya suka, padahal 100 meter dari gedung tempat saya makan terdapat beberapa rumah makan masakan Padang yang menyediakan menu-menu favorit saya, tempat di mana saya biasa makan. Huh!
"Kalau menurut Islam bagaimana Pak? Apa buktinya Tuhan itu ada?" Orang itu bertanya sambil mengangsur duduknya lebih dekat kepada saya. Saya meraih teh botol dan minum beberapa teguk cairan yang mengandung zat pengawet itu sambil berfikir apa saya cukup kompeten menjawab pertanyaan orang itu. Kenapa dia bertanya hal itu kepada saya? Saya tidak terlalu ahli dalam hal agama, saya termasuk orang yang belajar agama seadanya saja, setidak-tidaknya itu menurut saya. Tiba-tiba saya berfikir apakah pertanyaan itu merupakan sebuah pertanyaan biasa ataukah sebuah pertanyaan ujian. Dari dulu saya punya kebiasaan negatif untuk selalu curiga pada setiap pertanyaan yang diajukan kepada saya, saya bukan tipe orang yang mudah percaya kan? Haks!
Setelah beberapa saat, akhirnya saya menjawab juga pertanyaan orang itu, "Saya rasa anda sudah mengetahui bahwasanya Islam mengakui tentang keberadaan Tuhan, jadi pertanyaan pertama tidak perlu saya jawab. Sedangkan soal bukti keberadaan Tuhan lebih baik kita mendiskusikannya dalam sudut pandang rasio atau logika. Karena anda bukan seorang penganut agama Islam maka tidak akan efektif jika saya mengemukakan ayat-ayat Al-Qur’aan atau isi kitab suci orang Islam sebagai dalil tentang keberadaan Tuhan, namun demikian referensi saya tidak akan jauh-jauh dari Al-Qur’aan."
"Baiklah...terus bagaimana?" kata orang itu sambil lebih mendekatkan badannya kepada saya, mungkin karena antusias, padahal saya sangat tidak suka berdekatan dengan laki-laki, lain soal kalau orang itu wanita. Heee...saya masih normal kan? Astaghfirullah!
"Hmm...anda tidak mempercayai adanya Tuhan ya, jika begitu, menurut anda siapakah yang menciptakan diri anda ini?" Tanya saya. "Yaa...saya tercipta demikian saja secara alamiah melalui proses percampuran sel-sel atau benih antara kedua orang tua saya." Jawabnya. "Kenapa bisa terjadi begitu? Bagaimana mungkin sel-sel kedua orangtua anda itu bisa berubah wujud seperti anda sekarang ini?". Lanjut saya. "Yaaa...eee..memang begitu, sudah alamiah seperti itu dan memang begitulah ketetapan atau sifatnya." Jawab laki-laki itu. "Siapa yang membuat ketetapan atau sifat-sifat sel seperti itu? Siapa yang menetapkan kejadiannya harus seperti itu?" Pertanyaan saya ini tulus tidak ada maksud hendak menguji, hanya sekedar mengumpulkan informasi dan melihat pola pikir orang itu. "Ya sel-sel itu sendiri, mereka memiliki kecenderungan dan sifat seperti itu." Jawabnya. "Oow...kalau begitu apa boleh saya menyimpulkan bahwa menurut anda sel-sel itu bisa berfikir dan menentukan sifat-sifatnya sendiri?" Saya mencoba menarik kesimpulan awal. "Ya boleh jadi seperti itu. Setiap benda sudah memiliki ketetapannya masing-masing termasuk hendak menjadi apa dia. Umpamanya kertas, benda itu awalnya berasal dari pohon kayu tapi sejak awal ketetapannya memang harus menjadi kertas, maka jadilah pohon itu kertas pada waktu yang telah ditentukan."
Laki-laki itu seperti sedang menemukan jawaban yang pas baginya, dia terlihat puas, sementara saya sudah bisa menyimpulkan bahwasanya orang itu penganut paham Materialisme, sebuah paham kebendaan yang hakikatnya adalah inti dari keyakinan Atheis. "Lalu bagaimana dengan peran manusia dalam hal ini? Bukankah manusia yang mengubah pohon itu melalui serangkaian proses hingga bisa menjadi kertas?" Saya kembali bertanya sambil melihat jam, masih 7 menit lagi sebelum jam istirahat makan siang habis. "Ya manusia hanya sebagai faktor pelengkap saja, dengan atau tanpa peran manusia, pohon itu tetap saja akan berubah menjadi kertas. Pulpen, gelas, telepon, meja, mobil, dan lain-lain semuanya punya prinsip yang sama dengan kejadian kertas itu." Sambung laki-laki itu. "Hmm...cara berfikir anda ‘menakjubkan’ juga yaa..tanpa ada faktor lain sesuatu bisa berubah menjadi sesuatu lainnya." jawab saya sambil mengusap janggut. Saya memang suka mengusap janggut jika sedang berfikir, dalam satu riwayat pernah saya baca, bahwa Nabi Saw. juga senang berbuat seperti itu, jadi..saya hanya mencontoh saja kan? whew!
"Ngomong-ngomong anda lahir tahun berapa?" Tanya saya, tentunya setelah berhenti mengusap janggut. "Saya lahir tahun 1980." Jawabnya. "Hmm...masih cukup muda juga yaa..hmm..baiklah, tadi menurut anda semua benda sudah memiliki ketetapannya masing-masing kan? termasuk hendak menjadi apa mereka, benar begitu?" Tanya saya memastikan. "Ya benar!" Jawabnya pasti. "Oh ya, kalau begitu sebelum tahun 1980 anda berada di mana? kenapa anda baru muncul pada tahun itu? Anda ingat tidak kenapa anda muncul pada tahun itu? Anda jugakah yang memutuskan untuk menjadi diri anda seperti sekarang ini?" Orang itu terdiam sejenak, sepertinya sedang berfikir, sementara saya kembali melihat jam, masih tinggal 5 menit lagi sebelum waktu istirahat siang berakhir. Saya bukannya tipe pegawai yang disiplin dan senang masuk kerja tepat pada waktu, apalagi setelah waktu istirahat siang. Saya cuma sudah tidak sabar untuk segera kembali ke ruang kerja dan membalas email sahabat lama yang sempat saya baca sebelum pergi makan siang. Itu juga sebabnya kenapa saya tidak makan siang di luar hari ini, karena saya ingin cepat-cepat selesai makan siang dan membalas emailnya. Saya sebetulnya tidak tega mengajukan pertanyaan seperti ini, karena jawabannya pasti sulit. Sekali lagi, saya tidak bermaksud menguji, saya hanya ingin agar seseorang menemukan sendiri jawaban untuk pertanyaannya, saya rasa itu lebih efektif begitu daripada saya mencekokinya dengan dalil-dalil yang belum tentu dipahaminya.
"Eee...saya tidak tahu di mana saya berada sebelum tahun 1980 itu. Mungkin saja saya sebelumnya adalah orang lain bahkan mungkin seekor binatang atau makhluk lain." Saya agak terkejut mendengar jawabannya, tapi dengan cepat menyadari bahwa orang ini sedang berbicara tentang Reinkarnasi, sebuah keyakinan lain yang pada dasarnya bukan bagian dari paham Materialisme, setahu saya Reinkarnasi merupakan bagian dari paham Kong Fu Cu dan Budhis. "Maksud anda Reinkarnasi? Anda adalah Reinkarnasi dari manusia, binatang atau makhluk lain sebelumnya, begitu?" Tanya saya ingin tahu. "Iya, begitulah.." Jawabnya ragu. "Kalau begitu anda ini sebelumnya Reinkarnasi dari siapa atau apa? Kenapa anda ber-Reinkarnasi jadi seperti sekarang ini?" Saya kembali bertanya, dan sepertinya dari tadi justru saya yang lebih banyak bertanya daripada orang itu, padahal sejak pertama kali justru dia yang ingin mendapatkan sebuah jawaban. "Eee...saya tidak tahu..saya tidak bisa menjawabnya tapi semua itu memang sudah ditetapkan seperti itu." Jawab laki-laki itu tidak bersemangat. "Siapa? Siapa yang menetapkan anda harus muncul atau apa yang anda sebut ber-Reinkarnasi jadi ini atau itu?" Tanya saya lagi. "Saya tidak tahu." Jawabnya singkat. "Apakah tidak mungkin ada sesuatu yang lebih berkuasa daripada diri anda yang menetapkan peristiwa itu? Yang bisa memilih waktu kapan anda harus lahir atau muncul ke dunia ini? Yang menentukan anda lahir di keluarga siapa, hidup di mana, dan akan menjadi apa?" Lagi-lagi saya bertanya. Sepertinya saya suka bertanya, pantas saja waktu kuliah dulu dosen-dosen lebih senang jika saya tidak masuk ke kelas, ach! bukan begitu...saya sendiri yang memang jarang masuk kelas, hehehe...
Tiba-tiba saya tertarik untuk memperhatikan laki-laki itu dengan serius. Dia berusaha mengalihkan pandangannya dari saya dan menatap bekas makanan di hadapannya, kelihatannya sedang mencari jawaban-jawaban bagi pertanyaan saya. Saya ikut juga memperhatikan bekas makanannya, jangan-jangan memang ada jawabannya di situ, ups! hanya iseng. "Eee..mungkin sajaa..mungkin saja ada dewa atau apa." Dia menjawab juga akhirnya setelah beberapa menit walaupun tidak lengkap, padahal saya sudah tidak sabar untuk segera turun ke ruang kerja dan membuka mailbox. "Anda tahu? Bagi sebagian orang, dewa-dewa itu mereka anggap sebagai Tuhan." Kata saya setelah yakin dia tidak berniat melanjutkan jawabannya. "Saya tidak akan membahas dengan rinci tentang apa yang anda sebut dewa ini. Setiap penganut agama memiliki definisi yang berbeda-beda tentang Tuhan, tetapi dalam Islam kami yakin akan keberadaan satu Zat Yang Maha Perkasa, Yang Kekuasaannya teramat luar biasa bahkan melebihi apa yang bisa dibayangkan oleh manusia. Yang Mengatur alam semesta yang maha luas ini. Dan tentu saja Yang Mempunyai maksud dan tujuan dari penciptaan makhluk-makhluk-Nya." Saya kembali melihat jam. "Saya kira ’kita’ sudah menjawab pertanyaan anda tadi. Ok! kapan-kapan kita diskusi lagi, saya harus pergi sekarang." Kata saya sambil berdiri dan meraih baki yang berisi piring dan mangkok bekas makan saya tadi. "Baik Pak.." Jawabnya singkat dan pelan.
Saya kemudian berjalan meninggalkan laki-laki itu, entah apa yang dia fikirkan sekarang ini. Bagaimanapun juga saya tidak pernah berambisi mengubah keyakinan seseorang tentang suatu hal, tapi adakalanya saya ingin kita memikirkan kembali apa yang menurut pendapat kita benar.

Di dalam lift ketika turun, saya teringat akan beberapa terjemahan ayat Al-Qur’aan dalam surat Ali-Imran: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."
(QS.3 : 190-191).


0 Comments:
Post a Comment
<< Home