Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Shakhr ra., ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia memandang kepada hati kalian." [HR. Muslim] *** "Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Sertailah (tutuplah) kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan tadi akan menghapus kejelekan, dan gaulilah manusia dengan akhlak yang baik." [HR. Tirmidzi] *** Dari Abu Sa'id dan Abu Hurairah ra., dari Nabi Saw., ia berkata: "Seorang muslim yang tertimpa kecelakaan, kemelaratan, kegundahan, kesedihan, kesakitan maupun kedukacitaan, sampai yang tertusuk duri pun, niscaya Allah akan mengampuni dosanya sesuai apa yang menimpanya." [HR. Bukhari dan Muslim] *** Dari Anas ra., ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: "Apabila Allah menghendaki hamba-Nya menjadi orang yang baik, maka Dia menyegerakan siksaannya di dunia, dan apabila Allah menghendaki hamba-Nya menjadi orang jahat, maka Dia menangguhkan balasan dosanya sehingga Allah akan menuntutnya pada hari Kiamat." [HR. Bukhari dan Muslim]

Monday, July 04, 2005

HARUSKAH DURHAKA?? [1]

oleh Webmaster
oleh WebMaster


Sudah sebulan lebih Pak Sutan bersusah hati memikirkan masalah Ramli. Sejak anak laki-lakinya itu meminta restu untuk menikah dengan Nurhayati, seorang gadis pilihannya, Pak Sutan tidak lagi terlihat ceria dan jenaka seperti biasanya. Dia sekarang lebih sering bermenung, semakin kurus dan sakit-sakitan. Persoalannya bukan karena Pak Sutan tidak setuju dengan gadis yang diajukan Ramli. Tidak ada yang kurang pada gadis itu, selain cantik dan berpendidikan tinggi, Nurhayati juga adalah putri dari seorang dosen senior pada salah satu perguruan tinggi agama milik pemerintah. Sebaliknya keluarga Pak Sutan tergolong sederhana dan bukan dari keluarga bangsawan. Dalam keadaan pas-pasan, Pak Sutan masih berusaha menyekolahkan Ramli di sebuah sekolah tinggi agama hingga lulus mendapatkan gelar sarjana agama. Saat ini Ramli sedang mengikuti pendidikan lanjutan untuk meraih gelar master di bidang syari’ah. Beruntung ia berhasil mendapatkan beasiswa dari perguruan tinggi di mana ia kuliah sebelumnya, sehingga Pak Sutan tidak perlu lagi risau memikirkan biaya kuliah Ramli. Ramli memang termasuk mahasiswa yang pandai, mahir berpidato, aktif berorganisasi, dan cukup tampan. Tidak heran jika banyak dosen yang menyukainya, bahkan salah seorang di antaranya yakni ayah Nurhayati, tertarik untuk mengambil Ramli sebagai menantu.

Nurhayati tidak lain adalah adik kelas Ramli sendiri ketika masih mengikuti pendidikan sarjana. Sudah beberapa tahun ini Ramli dan putri dosennya itu berpacaran layaknya mahasiswa dan mahasiswi lain. Padahal menurut syari’ah Islam, ilmu yang dikuasai dengan baik oleh Ramli, jangankan berpacaran, berdua-duaan saja laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim di suatu tempat atau disebut berkhalwat dilarang dan diharamkan. Tapi apa hendak dikata, hanya namanya saja sekolah di perguruan tinggi agama, sebagian mahasiswanya tetap saja berprilaku sama seperti mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi sekuler lainnya. Barangkali benar juga sebuah paradigma yang menyatakan bahwa jika sebuah perilaku salah dibiarkan atau didiamkan saja oleh suatu masyarakat, maka lama kelamaan perilaku tersebut akan dianggap sebagai suatu hal yang lazim. Buktinya, keasyikan berpacaran di kalangan mahasiswa dan mahasiswi sekolah agama pun akhirnya dianggap sebagai suatu kelaziman saja, seperti halnya yang terjadi pada sekolah-sekolah atau lingkungan masyarakat lainnya. Terlebih lagi hubungan keduanya juga direstui oleh orang tua si gadis yang justru adalah seorang dosen ilmu agama.

Kembali ke Pak Sutan, hal yang membuat hatinya gundah gulana dan belum mengabulkan permintaan Ramli, adalah karena dua orang kakak laki-laki Ramli yakni Malin dan Syamsir masih belum menikah. Bahkan Malin yang merupakan anak sulung Pak Sutan, usianya sudah mendekati 40 tahun. Selain itu, Pak Sutan juga risau karena Ramli belum mempunyai penghasilan tetap yang bisa diandalkan untuk membiayai rumah tangganya nanti. Padahal Ramli sudah berulang kali meyakinkan Pak Sutan bahwa dengan uang beasiswa yang diterimanya tiap bulan, ia sanggup mengarungi bahtera rumah tangga.



Suatu hari Pak Sutan berkunjung ke rumah salah seorang keponakannya. Ia diundang untuk menghadiri acara pinangan anak saudara perempuannya itu. Tentu saja ibu Aminah, adik perempuan Pak Sutan sudah terlebih dahulu datang ke rumah anaknya. Ibu Aminah dan anak-anaknya memang secara khusus mengundang Pak Sutan untuk hadir dalam acara pinangan itu, selain karena Pak Sutan sangat berpengalaman dalam acara adat pinangan juga karena suami ibu Aminah sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena sakit. Ibu Aminah dan anak-anaknya memerlukan seorang tetua yang bisa tampil mewakili keluarga dalam menyambut dan melayani secara adat rombongan keluarga calon suami anak perempuannya.

Malam harinya sebelum acara pinangan dilangsungkan, Pak Sutan dan keluarga ibu Aminah berkumpul bersama membicarakan semua persiapan yang diperlukan untuk acara tersebut. Setelah semua persiapan dibicarakan dan disepakati bersama, mereka kemudian berbincang-bincang tentang hal lain di luar masalah tersebut. Pak Sutan dengan sengaja menceritakan kegundahan hatinya tentang masalah Ramli kepada ibu Aminah dan beberapa orang kemenakannya. Salah seorang kemenakan Pak Sutan menanggapi cerita Pak Sutan dengan mengatakan bahwa pada suatu hari ia secara tidak sengaja melihat Ramli dan pacarnya berjalan berduaan di suatu tempat sambil bergandengan tangan dengan mesra. Layaknya sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara, keduanya terlihat sangat asyik di dunianya sendiri hingga tidak mengenali dan mengacuhkan saja anak bibinya yang berada tidak jauh darinya.

Mendengar cerita itu semakin bertambah risaulah hati Pak Sutan. Bagaimana tidak, Pak Sutan terkenal sebagai salah seorang tetua atau datuk yang sangat dihargai di kampungnya. Ia sering bertindak sebagai penghulu, baik dalam acara pernikahan maupun dalam acara-acara adat lainnya, bahkan salah satu kegiatan rutinnya adalah mengimami shalat berjama’ah di Masjid dan memberi khotbah Jum’at setiap minggu. Perilaku Ramli jelas-jelas tidak sepatutnya dilakukan, di samping karena memang perbuatan tersebut tidak dihalalkan agama, juga karena dia adalah putra dari seorang datuk yang dihormati karena kealimannya. Apalagi sebagai seseorang yang memiliki pemahaman dan ilmu agama yang baik, seharusnya Ramli menyadari bahwa perbuatannya itu tidak sesuai dengan syari’ah Islam. Masih untung kejadian itu terjadi bukan di kampung sehingga perbuatannya itu belum dilihat dan diketahui oleh masyarakat. Tetapi jika hal tersebut dibiarkan saja, tidak mustahil suatu ketika akan menimbulkan aib fitnah juga bagi keluarga Pak Sutan.

Ibu Aminah kemudian menyarankan agar Pak Sutan merestui saja pernikahan Ramli. Alasannya selain karena Ramli sudah cukup dewasa untuk menikah dan memiliki keyakinan sanggup menafkahi keluarganya, juga karena dikhawatirkan Ramli akan terjerumus berbuat hal-hal yang dilarang agama jika dibiarkan terus menerus menjalin hubungan tanpa ikatan pernikahan yang syah. Para kemenakan Pak Sutan juga memberikan pendapat yang sama. Akhirnya setelah bermusyawarah dengan ibu Aminah dan para kemenakannya, Pak Sutan memutuskan untuk merestui pernikahan Ramli dan akan segera melangsungkan pernikahan itu secepatnya.



Akhirnya pernikahan Ramli dilangsungkan juga beberapa minggu kemudian. Meskipun ditentang dengan keras oleh Malin, namun pernikahan itu tetap saja dilaksanakan. Sebelumnya Ramli sudah mendatangi Malin dan Syamsir guna meminta ijin untuk menikah mendahului kedua kakaknya itu. Dengan sedikit berat hati Syamsir memberikan ijinnya kepada Ramli, sebaliknya Malin menolak memberi restu bahkan ia mengucapkan kata-kata kasar kepada adik ketujuhnya itu. Malin menganggap Ramli kurang ajar egois dan tidak mempertimbangkan perasaan kakak-kakaknya, apalagi usia Ramli terpaut cukup jauh di bawah usia Malin dan Syamsir. Bagi Malin, seharusnya Ramli menunda terlebih dahulu pernikahannya, setidak-tidaknya sampai salah satu dari kedua orang kakak laki-lakinya itu menikah. Tapi ternyata Ramli terlalu egois sehingga tega melangkahi dua orang kakaknya sekaligus. Hal inilah yang membuat Malin benar-benar tersinggung dengan sikap Ramli. Sejak awal, memang di antara keduanya terdapat banyak ketidakharmonisan. Apalagi selama ini Pak Sutan terkesan lebih memanjakan Ramli si anak laki-laki bungsu itu daripada putra-putranya yang lain.

Bersambung.....


0 Comments:

Post a Comment

<< Home