Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Shakhr ra., ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia memandang kepada hati kalian." [HR. Muslim] *** "Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Sertailah (tutuplah) kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan tadi akan menghapus kejelekan, dan gaulilah manusia dengan akhlak yang baik." [HR. Tirmidzi] *** Dari Abu Sa'id dan Abu Hurairah ra., dari Nabi Saw., ia berkata: "Seorang muslim yang tertimpa kecelakaan, kemelaratan, kegundahan, kesedihan, kesakitan maupun kedukacitaan, sampai yang tertusuk duri pun, niscaya Allah akan mengampuni dosanya sesuai apa yang menimpanya." [HR. Bukhari dan Muslim] *** Dari Anas ra., ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: "Apabila Allah menghendaki hamba-Nya menjadi orang yang baik, maka Dia menyegerakan siksaannya di dunia, dan apabila Allah menghendaki hamba-Nya menjadi orang jahat, maka Dia menangguhkan balasan dosanya sehingga Allah akan menuntutnya pada hari Kiamat." [HR. Bukhari dan Muslim]

Tuesday, November 22, 2005

BENARKAH DR. AZAHARI SUDAH TEWAS?

oleh Webmaster


"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." [QS. Al-Hujuraat : 6]

Hari Rabu, tanggal 9 November 2005, masyarakat Indonesia bahkan dunia pada umumnya, digemparkan dengan peristiwa penyergapan terhadap sebuah rumah di perumahan Flamboyan Indah, Kota Batu, Malang, yang diduga sebagai tempat persembunyian teroris. Dalam peristiwa itu, satu orang polisi terluka dan 2 orang teroris tewas di tempat kejadian. Salah satu dari teroris yang tewas diyakini sebagai Dr. Azahari, seseorang yang dipercaya polisi sebagai aktor intelektual dari berbagai aksi teror bom di Indonesia.

Dalam waktu yang relatif singkat berbagai media massa baik cetak maupun elektronik memberitakan tewasnya Dr. Azahari yang sekaligus menjadi simbol keberhasilan kepolisian Republik Indonesia ini. Namun sejumlah pihak termasuk webmaster sendiri masih meragukan kebenaran fakta tentang tewasnya Dr. Azahari.

Mantan Direktur Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN), AC Manulang, mengatakan, "Yang mati itu mungkin hanya Azahari-Azaharian. Saya menduga ini skenario intelijen asing." Prediksinya itu didasarkan pada pengalamannya sebagai seorang intelijen, "Ada rekayasa intelijen," katanya. AC Manulang meminta agar polisi melakukan tes DNA untuk memastikan satu dari dua orang yang meninggal di Vila Flamboyan Blok A, Batu, Malang adalah benar-benar Azahari. [hidayatullah.com, 15 November 2005]

Mochamad Toha, wartawan Majalah FORUM Keadilan Jakarta menulis dalam situs jawapos.com, tanggal 21 November 2005, "Banyaknya kejanggalan di lapangan ketika penyergapan Azahari dan Arman itu menimbulkan kecurigaan bahwa operasi tersebut tidak ubahnya latihan penyerbuan 'sarang' teroris Azahari. Dengan tewasnya Azahari, tugas polisi memburu gembong teroris ini sudah 'selesai'. Tinggal Noordin Mohd. Top."

Sejumlah keganjilan-keganjilan yang terdapat pada peristiwa terbunuhnya Dr. Azahari belum terjawab secara memuaskan. Ditambah lagi berbagai opini yang kemudian muncul ke permukaan mengikuti peristiwa tanggal 9 November itu. Opini-opini tersebut tentu saja menguntungkan sebagian pihak meskipun ia belum memiliki dasar yang kuat dan teruji secara ilmiah.

Salah satunya adalah opini yang dikemukakan oleh Lynn B Pascoe, Duta besar Amerika Serikat untuk Indonesia. Pascoe mengatakan bahwa ia (dan tentunya Amerika Serikat) yakin bahwa Dr. Azahari terlibat dalam jaringan teroris kelas dunia, Al Qaeda, pimpinan Osama bin Laden.

"Azahari merupakan agen dan bagian dari kelompok jaringan Al Qaeda, karena ia pernah ke Afganistan untuk mendapat pelatihan dari jaringan teroris itu," ungkap Pascoe saat menjawab pertanyaan Suripto, anggota Komisi I DPR dari Fraksi PKS, tentang identitas Azahari dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi I DPR RI di Gedung MPR/DPR, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Selasa (15/11/2005).

Selain Azahari yang tewas dalam penggerebekan di rumah yang disewanya di Jalan Flamboyan II, Blok A Nomor 7, Perumahan Flamboyan Indah, Batu, Malang, Jatim, pekan lalu, Pascoe menuturkan, pimpinan Ponpes Ngruki, Solo, Abu Bakar Ba'asyir, juga merupakan salah satu orang yang memiliki jaringan kuat dengan Al Qaeda. [detik.com, 15 November 2005].

Berikut ini akan diuraikan sebagian dari keganjilan-keganjilan yang terdapat pada kasus tewasnya Dr. Azahari:

1. Informasi seputar hasil penyergapan Dr. Azahari dan rekannya di Kota Batu, Malang, selalu berubah-ubah. Sebelumnya polisi menyatakan yang tewas dalam penyergapan tersebut adalah 3 orang, satu hari kemudian berubah menjadi 2 orang saja yakni Dr. Azahari dan rekannya Arman.

Sementara itu ada seorang saksi yang tinggal tidak jauh dari lokasi penyergapan bernama Imam mengaku melihat ada 4 orang yang tergeletak dan di diduga tewas. Menurut Imam, rumah yang baru tiga bulan dikontrak itu dihuni oleh 6 orang [detik.com, 9 November 2005]

Farid Gaban dari LSM Pena Indonesia, mengungkapkan bahwa terdapat beberapa konflik pernyataan yang dibuat oleh Kapolri.

Pada 10 November pagi, setelah mengunjungi lokasi dan melihat sendiri kondisi dalam rumah, Kapolri masih mengatakan ada tiga jenazah di situ. "Dua dalam keadaan hancur lebur dan tercerai-berai, namun masih bisa dikenali karena bagian wajah dan kepala masih utuh. Sedangkan (satu) korban yang lain belum bisa diambil karena masih di bawah reruntuhan." (Antara, 10 November, pukul 9:30). Namun, sore harinya, dia punya versi cerita kedua: korban hanya dua orang. "Korban tewas di tempat kejadian hanya dua orang, satu adalah Dr Azahari dan seorang lagi kawannya bernama Arman," katanya (Antara, 10 November, pukul 16:30).

Sulit untuk melihat keterangan Kapolri itu sebagai sekadar ketidaktelitian mengingat pernyataan itu cukup spesifik: "Dua hancur, satu tertimbun reruntuhan". [Misteri di Kota Batu, Farid Gaban]

Informasi seputar kondisi jenasah Dr. Azahari juga berubah-ubah. Dalam konferensi pers Rabu malam setelah penggerebekan (9 November) Kapolri mengatakan, "Kondisi dua tubuh di dalam rumah di vila di kawasan Batu itu dalam keadaan hancur lebur dan tercerai-berai, namun masih bisa dikenali karena bagian wajah dan kepala masih utuh." "Tubuhnya banyak yang putus-putus dan tercerai-berai namun bagian wajah masih relatif bisa dikenali," kata Kapolri Sutanto sesaat setelah ke luar dari rumah di villa Kota Batu itu. Namun, pada keesokan harinya (10 November), Kapolri merevisi cerita: "Kondisi jenazah Azahari masih utuh karena kemungkinan tidak sempat melakukan aksi bunuh diri dengan bom." [Misteri di Kota Batu, Farid Gaban]

2. Gambar dari jenasah yang diklaim polisi sebagai Dr. Azahari tidak pernah dipublikasikan secara terbuka kepada masyarakat. Padahal pihak kepolisian menyebutkan bahwa jenasah Dr. Azahari masih utuh dan bisa dikenali dibandingkan dengan jenasah Arman, salah seorang pengikut Dr. Azahari yang ikut terbunuh pada peristiwa tersebut. Tentang Arman ini sendiri polisi masih belum memiliki informasi yang akurat, terutama tentang identitas dan fungsi Arman dalam struktur kelompok Dr. Azahari-Noor Din M Top.

Jika kita membandingkan kinerja polisi di atas dengan kerja polisi saat mengungkap peristiwa Bom Bali II tanggal 1 Oktober 2005, terdapat perbedaan yang cukup menarik. Dalam waktu yang tidak lama setelah peristiwa itu, polisi bergegas mempublikasikan gambar 3 wajah jenasah yang dituduh sebagai pelaku peledakan Bom di daerah Kuta dan Jimbaran, Bali, tersebut.

Perbedaan ini menyisakan sebuah tanda tanya besar, apakah polisi sebenarnya belum begitu yakin bahwa salah satu yang tewas di Kota Batu, Malang, tersebut adalah Dr. Azahari?

3. Wakil dari pihak keluarga Dr. Azahari yakni Bani Yamin Husin (adik kandung Dr. Azahari) dan Rustam Mustamin (ipar Dr. Azahari) yang datang ke Indonesia untuk mengidentifikasi sekaligus mengurus jenasah Dr. Azahari untuk dipulangkan ke Malaysia mengalami penundaan-penundaan yang janggal dan tidak perlu. Selain itu mereka juga diharuskan memberikan semua informasi yang dimiliki atau yang akan digunakan untuk mengenali Dr. Azahari sebelum diijinkan untuk melihat langsung jenasah Dr. Azahari.

Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Ustadz Abu Jibril, juga melihat adanya keganjilan-keganjilan ini. Selain karena kesimpangsiuran dan berubah-ubahnya informasi tentang tewasnya Dr. Azahari yang berasal dari polisi, juga karena adanya kenyataan polisi berusaha menunda-nunda ijin bagi wakil keluarga Dr. Azahari untuk memeriksa jenasah.

"Sudah tiga hari datang belum bisa juga melihat jenasahnya, ada apa ini?" ujar Ustadz Abu Jibril [detik.com, 16 November 2005].

Sebelumnya pihak keluarga Dr. Azahari pernah meminta polisi melakukan tes DNA terhadap jenasah Dr. Azahari guna memastikan bahwa salah seorang teroris yang tewas dalam peristiwa di Kota Batu Malang tersebut benar-benar Dr. Azahari, namun polisi tidak mengabulkannya. Padahal beberapa tahun sebelumnya polisi sudah meminta sampel darah dan contoh DNA pihak keluarga Dr. Azahari guna keperluan identifikasi jika sewaktu-waktu Dr. Azahari berhasil ditangkap. Jadi, polisi sudah memiliki contoh DNA yang bisa digunakan untuk menguji jenasah yang disebut-sebut sebagai Dr. Azahari itu, tapi kenapa tidak dilakukan tes DNA?

Permintaan agar polisi melakukan tes DNA oleh pihak keluarga Dr. Azahari tentunya bisa dipahami sebagai langkah antisipasi jika keinginan mereka untuk melihat langsung jenasah Dr. Azahari ditolak oleh pihak Indonesia. Bagaimana pun mereka tentunya ingin mengetahui secara pasti benar atau tidaknya Dr. Azahari sudah meninggal.

Pada akhirnya pihak kepolisian RI mengijinkan juga wakil dari keluarga Dr. Azahari melihat langsung jenasah Dr. Azahari. Beberapa saat setelah proses identifikasi dilakukan, Bani Yamin Husin dan Rustam Mustamin terlihat tegang dan dikawal dengan ketat oleh polisi hingga ke terminal keberangkatan pesawat menuju Malaysia. Mereka tidak diberi kesempatan oleh polisi untuk menemui wartawan atau mungkin juga sengaja menghindar dari wartawan yang ingin mendapatkan keterangan yang lebih rinci tentang kepastian bahwa jenasah yang baru saja diidentifikasi tersebut benar-benar almarhum Dr. Azahari. Tidak lama kemudian polisi menyatakan sudah mengantongi surat pernyataan dari wakil keluarga Dr. Azahari bahwa jenasah yang disangkakan sebagai Dr. Azahari tersebut benar-benar almarhum Dr. Azahari.

Jika saya dalam posisi yang sama dengan Bani Yamin Husin, tentu saya juga akan melakukan hal yang sama. Tidak peduli benar atau tidaknya jenasah tersebut adalah Dr. Azahari, maka saya tetap akan mengakui bahwa jenasah tersebut adalah Dr. Azahari. Karena meskipun jenasah tersebut bukan Dr. Azahari, tapi bagi pihak keluarga Dr. Azahari akan lebih menguntungkan jika tetap mengakuinya sebagai jenasah Dr. Azahari.

Dengan mengakui bahwa Dr. Azahari benar-benar telah tewas, maka keluarga Dr. Azahari akan merasa lebih tenang karena polisi tentunya akan menghentikan pengejaran terhadap Dr. Azahari. Artinya, jika Dr. Azahari sekarang masih hidup, maka ia boleh bernafas lega dan lebih leluasa berpergian ke mana-mana termasuk kembali ke Malaysia menemui keluarganya karena sekarang ia berstatus "orang mati" dan orang mati tidak akan dicari polisi.

Selain itu vonis masyarakat yang menghakimi Dr. Azahari dan keluarganya, yang semuanya itu didasarkan pada opini yang dikembangkan media saja, secara perlahan-lahan akan berhenti dengan sendirinya meskipun di kemudian hari terjadi lagi kasus-kasus peledakan. Dengan kata lain masyarakat tidak mempunyai dasar lagi untuk memojokkan dan menghakimi keluarga Dr. Azahari secara sepihak.

Pada sisi lain, pengakuan wakil keluarga Dr. Azahari juga akan menutup malu polisi jika ternyata jenasah yang telah ditewaskan polisi tersebut bukan Dr. Azahari. Apa yang disebut-sebut sebagai prestasi polisi karena berhasil melumpuhkan gembong teroris yang paling dicari, tentunya akan langsung mentah jika pihak keluarga Dr. Azahari menyatakan bahwa jenasah tersebut bukanlah Dr. Azahari, dan masyarakat akan semakin memandang sebelah mata kepada polisi. Belum lagi horor yang akan berkembang dengan cepat dalam masyarakat karena masih berkeliaran dengan bebasnya Dr. Azahari. Hal ini tentu saja akan memperburuk citra polisi.

Dengan kata lain, kedua belah pihak baik polisi maupun pihak keluarga Dr. Azahari sama-sama diuntungkan dengan pengakuan bahwa yang tewas dalam peristiwa itu benar-benar Dr. Azahari.

4. Polisi sudah lama memburu Dr. Azahari dan Noor Din M Top yang didakwa sebagai aktor intelektual atau otak dibalik semua peristiwa teror bom di Indonesia. Jika dari awal polisi sudah mengetahui keberadaan Dr. Azahari di perumahan Flamboyan Indah itu (berdasarkan informasi dari Muhammad Cholili alias Yahya), maka tentunya polisi tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menangkap Dr. Azahari hidup-hidup guna menggali semua informasi tentang peledakan yang telah terjadi maupun yang sedang direncanakan oleh Dr. Azahari dan kawan-kawan. Tapi mengapa kemudian polisi memutuskan untuk menghabisi Dr. Azahari? mengapa polisi tidak melakukan langkah-langkah negosiasi, mengulur-ulur waktu sambil memutus jalur logistik dan tindakan-tindakan lain yang lebih baik agar Dr. Azahari menyerah atau ditangkap hidup-hidup?

Kepastian tentang tewasnya Dr. Azahari karena ditembak dan bukan karena meledakkan diri atau akibat ledakan bom bunuh diri didasarkan pada pernyataan Bani Yamin Husin.

"Tubuh Azahari baik dan utuh karena kematiannya akibat tembakan yang tepat. Hanya saja kakinya sedikit terkoyak," Kata Bani Yamin Husin, "ada dua bekas peluru di jantungnya."

Sebelumnya Kapolri mengatakan "Itu bom bunuh diri dari bom yang dibawa Arman, sedang bom satunya yang dibawa Dr Azahari belum meledak. Dia (Azahari) membawa bom rakitan di balik baju," katanya.

Jika benar Dr. Azahari membawa bom rakitan seperti yang disebutkan Kapolri, tentunya para penembak jitu pihak kepolisian sudah mengetahuinya lewat teleskop yang digunakan dan tidak akan mengambil resiko melakukan tembakan seperti itu karena hal itu bisa memicu ledakan bom yang berbahaya. Kecuali jika polisi memang menghendaki Dr. Azahari tidak ditangkap dalam keadaan hidup-hidup.

5. Dari hasil penggerebekan tempat persembunyian Dr. Azahari dan kawan-kawan di Kota Batu, Malang, polisi berhasil menemukan sebuah VCD pengakuan kelompok teroris. Sebuah "keberhasilan" yang luar biasa tentunya jika tidak ingin disebut sebagai sebuah "kebetulan" yang luar biasa.

Dari VCD yang ditemukan ini, polisi kemudian mempertegas kembali kenyataan bahwa para pelaku peledakan Bom Bali II memiliki keterkaitan dengan Dr. Azahari dan ketiga pelaku yang tewas di tempat kejadian berdasarkan potongan-potongan jenasah yang ditemukan adalah benar-benar orang-orang yang sebelumnya disangkakan.

Rangkaian berbagai kejadian mulai dari peristiwa peledakan Bom Bali II, diperolehnya rekaman video amatir dari seorang turis Australia yang secara "tidak sengaja" berhasil merekam gerak-gerik salah seorang pelaku peledakan Bom Bali II, publikasi wajah ketiga jenasah pelaku peledakan, ditangkapnya Muhammad Cholili alias Yahya yang mempunyai informasi tentang keberadaan "Dr. Azahari", sampai pada penemuan VCD yang memuat pengakuan ketiga pelaku peledakan Bom Bali II, sedemikian mengalirnya dan berurutan secara sistematis. Rasanya sulit dipercaya jika sebuah jaringan yang disebut-sebut sangat berpengalaman melakukan kegiatan teror seperti kelompok Dr. Azahari-Noor Din M Top akan memiliki pola-pola yang mudah ditelusuri dan diungkap sedemikian rupa.

Tidak tertutup kemungkinan sebuah organisasi rahasia di luar institusi kepolisian dan kelompok Dr. Azahari-Noor Din M Top, ikut bermain dan merancang rangkaian peristiwa yang telah disebutkan di atas. Tentu saja organisasi itu memiliki sistem dan peralatan yang sangat bagus, disiplin dan personilnya terlatih dengan baik. Yang dengan cermat mengarahkan dan mengatur para pemain yang mereka pilih untuk dilibatkan dalam skenario-skenario yang mereka buat, sehingga para pemain itu melakukan bagiannya masing-masing, baik secara sadar maupun tidak sadar. Salah satu dari bagian skenario tersebut boleh jadi adalah menghendaki agar polisi menemukan rekaman video amatir gerak-gerik pelaku peledakan Bom Bali II dan VCD pengakuan teroris sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.

VCD pengakuan kelompok teroris yang kemudian dipublikasikan pihak kepolisian itu memperlihatkan sejumlah anggota kelompok Dr. Azahari yang sedang menyampaikan alasan-alasan melakukan peledakan dan pesan-pesan terakhir mereka terhadap keluarga. Dalam tayangan tersebut ada 4 orang yang berbicara, 3 orang di antaranya mirip dengan photo 3 orang pelaku Bom Bali II yang disebarkan Polisi. Agak terasa aneh karena pengakuan ketiga orang ini terlihat dilakukan dengan cara sangat santai.

Kenyataan ini berbeda jauh jika dibandingkan dengan VCD pengakuan atau pesan-pesan terakhir para pelaku bom syahid di Palestina atau Irak yang pernah dirilis oleh stasiun TV Aljazeera. Pada tayangan tersebut para pelaku bom syahid terlihat tegang, serius dan sedih layaknya orang yang akan pergi berperang dan menuju kematian.

Apakah anak-anak muda yang direkam dalam VCD pengakuan kelompok teroris itu benar-benar sedang menyampaikan pesan-pesan terakhir mereka sebelum melakukan bom bunuh diri ataukah mereka sebenarnya sedang ber-akting saja sesuai arahan seseorang? Apakah mereka ini benar-benar pelaku bom bunuh diri yang dengan kesadaran sendiri meledakkan bom yang dibawanya ataukah mereka hanya merupakan korban dari skenario drama atau simulasi pengeboman yang tiba-tiba dibuat menjadi sungguhan oleh pemilik skenario tanpa disadari oleh orang-orang ini? seperti yang disinyalir oleh almarhum Joe Vialls (penyelidik informasi media) terjadi pada pelaku bom di London?

Penutup

Dr. Azahari dinyatakan sudah tewas dan dimakamkan di kampung halamannya di Jasin, Malaka, Malaysia. Kematiannya masih menyisakan sejumlah tanda tanya dan teka-teki, terutama bagi orang-orang yang kritis dan tidak mudah percaya begitu saja pada media massa dunia yang hampir seluruhnya dikuasai oleh negara-negara kapitalis-imperialis.

Yang jelas, kesalahan Dr. Azahari dan Noor Din M Top masih harus dibuktikan secara objektif dan diputuskan secara adil di pengadilan. Karena bukti-bukti yang selama ini dikemukakan polisi perlu diuji sehingga masyarakat dapat memperoleh kepastian tentang siapa sebenarnya yang telah meneror mereka selama ini.

Hal senada juga dikemukakan oleh Fauzan Al Anshari, Ketua Departemen Data dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), "Seharusnya bersalah atau tidaknya seseorang itu diputuskan lewat pengadilan. Jangan hanya melalui opini. Tapi pengadilan itu harus yang jujur, adil dan islami." [detik.com, 15 November 2005]

Jadi, apakah anda benar-benar yakin Dr. Azahari telah tewas?


Wallahu a'lam bis shawab

1 Comments:

Blogger Akuro ® said...

Nk jugak org komen. Manjaaa...! Xleh hidup tanpa ija ke? :-" Mmgla best if org anggap Dr. Azahari tu dh mati. Yela, if dia mati, takpela, dah ajal dia, if bkn dia yg mati n dia dianggap dh mati, lebih senangla future movement dia kan? Xdela nk kena lari lg if org kejar. If ija... Kalo org kejar ija *even xde salah pun* ija pun akan lariiii...! Haha! Apalagi org gila yg kejar :P

Friday, November 25, 2005 1:47:00 PM  

Post a Comment

<< Home