HARUSKAH DURHAKA?? [2]
oleh WebmasterCobaan demi cobaan berbentuk kesulitan-kesulitan, sepertinya belum sudi menjauh dari Malin. Setelah lulus kuliah, Malin berusaha keras mencari pekerjaan yang lebih baik daripada sekedar berdagang di kaki lima. Apalagi sekarang ia sudah memiliki gelar dan ijazah sarjana. Namun setelah berbulan-bulan berusaha, Malin belum juga berhasil mendapatkan pekerjaan. Tidak sedikit lamaran kerja yang telah ia kirimkan, termasuk meminta bantuan kepada saudara-saudara dan kawan-kawan. Kenyataannya, tidak ada satu pun perusahaan yang mau menerima Malin sebagai karyawan. Mungkin kegagalan itu terjadi disebabkan oleh faktor usia yang sudah agak tua untuk ukuran lulusan baru, masa kuliah yang terlalu lama dan nilai indeks prestasi yang kurang memadai. Pada akhirnya, untuk menopang kelangsungan hidup, Malin terpaksa kembali berjualan di kaki lima seperti dulu. Beberapa kali pula ia pindah dari satu kota ke kota lain untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Berbagai pekerjaan tidak tetap selain berdagang juga ia lakukan untuk sekedar menyambung hidup. Terakhir kali ia menjadi supir taksi selama beberapa tahun di Batam sebelum akhirnya pulang ke kampung karena kehabisan uang dan harapan. Di kampung, Malin kemudian beternak ayam untuk mengisi waktu luangnya. Ayam-ayam peliharaan Malin berkembang cukup baik, ia juga membuat alat penetas telur buatan untuk mempercepat proses perkembangan ayam. Sejak pernikahan Ramli dilangsungkan, yang tentu saja tidak dihadiri Malin, sikap Malin banyak berubah, ia menjadi pendiam dan mudah tersinggung. Malin merasa terhina, diabaikan, dikucilkan bahkan tidak dihargai sama sekali oleh orangtua dan saudara-saudaranya. Malin begitu kesal dan sakit hati, tidak saja kepada Ramli tapi terlebih lagi kepada Pak Sutan. Bagi Malin, Pak Sutanlah yang paling bertanggung jawab atas semuanya. Seharusnya Pak Sutan tidak memberi ijin atau restu pada pernikahan Ramli sebelum dirinya atau Syamsir menikah terlebih dahulu. Dalam pikiran Malin, selama ini Pak Sutan memang selalu memanjakan dan mengutamakan kepentingan Ramli di antara saudara-saudaranya yang lain. Perlahan-lahan tumbuh kebenciannya kepada Pak Sutan. Dia mulai bersikap tidak hormat dan kasar pada ayahnya itu. Ia pun tidak segan-segan membantah ucapan Pak Sutan bahkan adakalanya disertai dengan bentakan kasar. Pak Sutan memiliki kedai kecil di depan rumah yang menjual berbagai kebutuhan pokok. Dari hasil usaha inilah Pak Sutan memenuhi kebutuhan keluarga. Suatu ketika tanpa sengaja Pak Sutan mencabut sebuah stop kontak (jack) yang terpasang di kedainya, yang ternyata adalah penghubung listrik ke alat penetas telur buatan milik Malin. Sore harinya sepulang dari pasar, Malin langsung marah-marah begitu mengetahui hal ini, ia bahkan mengamuk dan mengobrak-abrik seluruh isi kedai. Pak Malin dan istrinya tidak bisa berbuat apa-apa, begitu pula ketika Malin mengucapkan kata-kata kurang sedap kepada Pak Sutan, keduanya hanya bisa terdiam sambil menahan hati. Bagaimana pun mereka berusaha untuk tidak terprovokasi dan menghindari terjadinya hal-hal yang lebih buruk. Lama kelamaan Pak Sutan tidak betah tinggal di rumah, hampir setiap hari ia menerima tatapan mata penuh kebencian dari Malin, belum lagi perkataan menyakitkan dan perlawanan terhadap semua nasehat dan kebijaksanaannya sebagai kepala rumah tangga. Istri Pak Sutan yang sakit-sakitan juga tidak bisa berbuat banyak untuk meredakan ketegangan antara Pak Sutan dan Malin. Apalagi sudah lama pendengarannya tidak berfungsi dengan baik. Sungguh menyakitkan bagi seorang ayah jika semua hal itu ia terima dari anak kandungnya sendiri. Tak pelak lagi Pak sutan juga menjadi stress dan sulit tidur, apalagi setelah ia menonton salah satu tayangan televisi yang mengungkapkan peristiwa pembunuhan yang dilakukan seorang anak terhadap ayahnya. Setiap malam Pak Sutan baru bisa tidur setelah mengunci rapat-rapat pintu kamarnya dan memastikan bahwa pada saat itu Malin sudah tidur. Biasanya Malin baru tidur setelah jam 11 malam, sepulangnya ia dari rumah tetangga. Anak-anak Pak Sutan yang lain juga tidak mampu mengubah sikap Malin. Bahkan beberapa di antara adik Malin yang mencoba memberi nasehat justru mendapat pukulan darinya. Tidak saja adik laki-lakinya yang ia pukul tapi adik perempuannya pun ia pukul tanpa rasa iba. Adik-adik Malin menjadi takut pulang ke rumah dan kemudian memutuskan untuk tinggal di tempat lain. Beberapa kali tanpa dapat tertahankan lagi Pak Sutan berdo’a kepada Allah agar Malin diberikan pembalasan atau siksa yang setimpal atas perlakuannya kepada Pak Sutan. Walaupun Pak Sutan adalah seorang Datuk yang memahami tentang agama dengan baik, termasuk mengetahui bahwa do’a orangtua pasti dikabulkan oleh Allah SWT, namun akibat derita fisik dan bathin yang ia alami, maka ia pun terpaksa memanjatkan do’a semacam itu. Akhirnya beberapa anak Pak Sutan menyarankan agar ayah dan ibu mereka itu pergi saja dari rumah dan tinggal dengan mereka. Pak Sutan kemudian hijrah ke Bogor meninggalkan rumah dan kampung halamannya. Kebetulan ada salah seorang anak perempuan Pak Sutan yang sudah berkeluarga dan tinggal di Bogor yang meminta agar Pak Sutan tinggal bersama keluarganya. Sedangkan istri Pak Sutan memutuskan untuk ikut anaknya yang lain di Bandung. Pak Sutan sudah pasrah dan putus harapan akan perubahan sikap Malin. Meski pun di tempat tinggalnya sekarang ia merasa terhibur dengan cucunya yang berusia 5 tahun dan sangat menyayanginya, namun hatinya tetap sakit dan terpukul atas perlakuan anak sulungnya itu. Sungguh memprihatinkan, dalam usia yang sudah senja Pak Sutan bukannya bisa menikmati hari-hari tuanya dengan tenang tapi justru harus dilalui dengan penderitaan bathin yang mengerikan. Kepada keponakannya yang tinggal tidak terlalu jauh dari tempat tinggal anaknya, yang baru ditemuinya beberapa bulan kemudian, ia mengungkapkan semua peristiwa yang menimpanya. Keponakannya itu sangat terkejut dan prihatin, serta menyesalkan kenapa agak terlambat mengetahuinya. “Paman sudah pasrah dan tawakkal kepada Allah, paman sekarang berusaha untuk berfokus pada diri paman sendiri bagi persiapan menghadapi kematian yang mungkin akan datang sebentar lagi. Jika semuanya paman fikirkan, paman khawatir akan terserang berbagai penyakit termasuk stroke, yang justru akan menyusahkan anak-anak atau saudara-saudara yang lain. Lebih baik paman memperbanyak ibadah saja dan menenangkan diri…” kata Pak Sutan menutup ceritanya sambil berlinang air mata. Keponakan Pak Sutan menganjurkan agar Pak Sutan tidak berputus asa berdo’a kepada Allah agar semua cobaan itu bisa dilalui dengan sabar dan tabah. Dan semoga Allah membukakan pintu hati Malin agar mau bertobat kepada Allah dan memperbaiki sikapnya terhadap Pak Sutan. Bersambung.....
Sejak lulus SMA, otomatis Malin membiayai sendiri hidupnya. Ia pergi merantau ke Bandung dan melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta di sana. Semua keperluan hidup mulai dari makan, tempat tinggal dan biaya kuliah diperoleh Malin dari hasil berjualan barang-barang eceran di kaki lima. Tidak jarang ia terpaksa bolos kuliah untuk menggelar dagangan kaki limanya demi mendapatkan uang tambahan bagi keperluan biaya ujian dan lain-lain. Ia juga beberapa kali terpaksa istirahat kuliah selama 1 sampai 2 semester karena kekurangan uang. Alhasil setelah 8 tahun lamanya kuliah, barulah ia berhasil lulus dan mendapatkan gelar sarjana, itu pun dengan nilai yang tidak terlalu memuaskan.


1 Comments:
Tak sabar nak tunggu trailer berikutnya...
Post a Comment
<< Home