KEKUATAN NIAT
oleh WebmasterDisadari maupun tanpa disadari, setiap perbuatan yang kita lakukan selalu mempunyai tujuan. Orang-orang belajar tujuannya supaya pandai, orang-orang pergi ke pasar tujuannya untuk berdagang atau berbelanja, orang-orang bekerja tujuannya supaya memperoleh penghasilan dan aktualisasi diri, orang-orang makan tujuannya supaya kenyang dan tidak sakit, orang-orang minum obat tujuannya supaya sembuh, dan seterusnya. Lantas apa kaitan antara tujuan dengan niat? Ataukah tujuan sama dengan niat? Sepintas lalu memang terlihat bahwa tujuan hampir sama dengan niat, tapi pada hakikatnya niat adalah sesuatu yang lebih besar dan pokok yang kita peroleh setelah tujuan. Dengan kata lain niat adalah muara dari tujuan. Sekarang mari kita lihat sekilas pengertian niat menurut syara'. Syara' atau hukum syara' adalah seruan (perintah dan larangan) Allah yang berkaitan dengan amal perbuatan hamba (manusia) yang terdapat dalam Al-Qur'aan dan Hadits. H. Sulaiman Rasjid dalam kitab Fiqh Islam mengulas sedikit tentang definisi niat. Menurut beliau: "Arti niat ada dua: Pertama, berdasarkan asal maknanya niat adalah menyengaja suatu perbuatan. Dengan adanya kesengajaan ini, maka perbuatan kemudian dinamakan ikhtijari (kemauan sendiri, bukan karena dipaksa). Kedua, niat pada syara' yaitu menyengaja suatu perbuatan karena mengikuti perintah Allah supaya diridhai-Nya. Inilah yang (kemudian) dinamakan ikhlas." [H. Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, hal. 75, penerbit Sinar Baru Algensindo]. Allah Ta'ala berfirman: Oleh karena itu, jika tujuan tidak bermuara pada kesengajaan untuk memperoleh keridhaan Allah SWT, maka perbuatan yang dilakukan atas nama tujuan itu tidak bernilai ibadah, tidak mencapai tingkatan ikhlas dan tentu saja tidak mendapat pahala. Apalah arti suatu perbuatan jika tidak mendapat keridhaan dan pahala dari Allah? Jadi selain sebagai muara dari tujuan, niat kemudian bisa juga disebut sebagai kunci pintu pahala. Tanpa niat maka tidak akan ada kunci, tanpa kunci maka pintu pahala tidak akan pernah terbuka, dan jika pintu pahala tidak terbuka maka amal menjadi sia-sia. Rasulullah Saw. Bersabda: Kadang-kadang kita menganggap berniat merupakan suatu pekerjaan tambahan yang tidak penting dan merepotkan, sehingga mengabaikannya. Padahal niat adalah landasan suatu perbuatan dan sangat mudah dilakukan bahkan sederhana sekali, yang dengannya kita kemudian mendapat balasan (pahala) dari Allah. Niat cukup dilafazkan di dalam hati sebelum memulai suatu aktifitas, seperti; "Sengaja aku menuntut ilmu karena mengharapkan ridha Allah", "Sengaja aku bekerja karena Allah", "Sengaja aku bersedekah karena Allah", "Sengaja aku membuang duri dari jalan karena Allah", atau "Sengaja aku melakukan amal ini karena Allah", dan seterusnya. Rasulullah Saw. Bersabda: Niat dapat menjadi semacam alat pengendali sekaligus penguat perbuatan. Jika kita melakukan suatu perbuatan dengan disertai niat, maka perbuatan tersebut akan dikendalikan dan diperkuat ke arah yang sesuai dengan niat. Karena dalam niat tadi telah tercakup keyakinan bahwa perbuatan yang dilakukan adalah bagian dari ibadah kepada Allah dan pasti akan mendapat pertolongan dari Allah. Seseorang yang bekerja mencari nafkah dengan niat karena Allah, akan dikendalikan atau dicegah oleh niatnya dari melakukan kecurangan-kecurangan, dan bersamaan dengan itu niat juga memperkuat semangatnya untuk menghasilkan prestasi kerja yang lebih baik. Seseorang yang belajar dengan niat karena Allah, akan dikendalikan dan dicegah oleh niatnya dari mempelajari sesuatu yang tidak diridhai Allah, dan bersamaan dengan itu niat juga memperkuat kesungguhan, semangat belajar dan keyakinan akan mendapat pertolongan-Nya. Niat juga merupakan faktor pembeda antara nilai perbuatan seorang muslim dengan perbuatan orang-orang yang tidak beriman. Seorang muslim akan beramal dengan niat untuk mendapatkan keridhaan Allah, sedangkan orang-orang yang tidak beriman akan beramal untuk mendapatkan balasan dari zat-zat selain Allah atau untuk tujuan-tujuan duniawi semata. Seorang muslim yang menuntut ilmu supaya pandai dan menjadi bermanfaat bagi manusia lain apabila disertai niat karena Allah, maka nilai perbuatannya itu akan mulia dalam pandangan Allah dan tidak akan sama dengan nilai perbuatan seorang non-muslim yang pergi menuntut ilmu untuk tujuan yang sama. Setiap perbuatan seorang muslim akan bernilai ibadah dan mendapat balasan pahala jika disertai niat karena Allah, sedangkan perbuatan orang-orang yang tidak beriman tidak memiliki nilai apapun dalam pandangan Allah sekalipun untuk tujuan-tujuan yang baik, dan amal perbuatan mereka itu tidak akan dapat menjadi penolong di akhirat nanti disebabkan mereka belum beriman dan melakukannya bukan karena Allah. Sebagaimana firman Allah SWT: "Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan." (QS. Al-Furqaan: 23). Namun demikian, jika seorang muslim sengaja tidak berniat sebelum melakukan suatu perbuatan atau berniat tapi karena sesuatu yang selain Allah, maka perbuatannya itu juga menjadi sia-sia dan hampir tidak ada bedanya dengan nilai perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak beriman. Amalnya tersebut mungkin saja syah menurut hukum syara' tapi tidak akan memperoleh keridhaan dan pahala dari Allah karena dilakukan bukan karena Allah. Misalnya, seorang muslim yang beramal dengan niat untuk mendapatkan pujian dari manusia atau riya', maka ia tidak akan memperoleh pahala apapun dari Allah. Allah Ta'ala berfirman: Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa niat memiliki fungsi dan kekuatan yang sangat penting terhadap perbuatan (amal). Seorang muslim harus senantiasa melengkapi setiap perbuatannya dengan niat sehingga perbuatan yang dilakukan tetap bernilai ibadah, menghasilkan sesuatu yang positif dan dapat meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah. Bagi seorang muslim, ad diinul Islam yang mencakup aqidah, ibadah dan syari'ah telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupan dunianya, dan aktifitas di kehidupan dunia memiliki hubungan sebab-akibat (kausalitas) yang sangat erat dengan kehidupan akhirat. Oleh karena itu, mari kita biasakan diri untuk selalu berniat sebelum melakukan aktifitas sehari-hari. Jadikan semua aktifitas kita sebagai ibadah. Jika kita secara tidak sengaja terlupa berniat, maka bersegeralah berniat meskipun saat itu aktifitas yang kita lakukan sedang berlangsung atau bahkan hampir selesai sekalipun, dan ucapkanlah "Bismillahi awwalahu wa akhirahu" : dengan nama Allah di awal dan di akhir (perbuatanku). Wallahu a'lam bis shawab"Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus,"(QS. Al-Bayyinah: 5).
"Sesungguhnya segala amal itu hendaklah dengan niat." (HR. Bukhari dan Muslim).
"Sesungguhnya Allah SWT sudah mencatat semua perbuatan baik dan buruk, kemudian Allah menerangkannya kepada para malaikat, mana perbuatan yang baik dan mana pula perbuatan yang jelek yang harus dicatat. Oleh karena itu, siapa saja bermaksud (berniat) melakukan perbuatan baik lalu tidak mengerjakannya, maka Allah mencatat maksud baik itu sebagai satu amal baik yang sempurna. Jika orang itu bermaksud (berniat) melakukan kebaikan lalu mengerjakannya, maka Allah mencatat di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat dan dilipat gandakannya lagi. Siapa saja yang bermaksud (berniat) melakukan keburukan lalu tidak jadi mengerjakannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu amal baik yang sempurna. Apabila ia bermaksud (berniat) melakukan keburukan kemudian mengerjakannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kejelekan." (HR. Bukhari dan Muslim).
"Dan orang-orang yang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur'aan) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka." (QS. Muhammad: 8-9).
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya' kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. Al-Baqarah: 264).



5 Comments:
Niat itu menghalalkan cara tak?
Niat bukan menghalalkan cara tapi niat tu menghalalkan pahala atau ridha Allah. Meanwhile yg menghalalkan cara tu kita sebut syari'ah.
Cmni,Tok Guru Nik Aziz once prnh undang singer ke Kltn utk menjayakan konsert (yg Islamic oriented). Tp penyanyi nya x Islamic sgt tp "charisme" dia kuat utk "tarik" gologan muda utk ikut "mesej" yg nk disampaikan dlm konsert tu iaitu "dont do drugs" n "make Islam as the way of life". Tp semua maklum yg penyanyi ni (male) takla Islamic sgt personality dia. Dia punya "aura" yg kuat, youngster suka dia. So how? Niat Tok Guru ni menghalalkan x cara dia utk "tarik" org2 melalui konsert yg cmni?
*Ija p konsert tu tau! (-_-;)
Niat Tok Guru Nik Aziz wat acara camtu mestila krn mengharapkan ridha Allah sebagai satu upaya beliau dalam berdakwah. While undang singer tu pun tak salah, as long as dlm acara tu takde perkara2 maksiat yg berlaku. Mesti boleh la kita guna popularity 1 orang muslim utk merayu orang2 muslim lain or even non-muslim biar cinta kat Islam. Tgk la zaman dahulu pun Nabi-Nabi selalu berdakwah kat org2 yg punya power, charm atau popularity yg besar. Napa Nabi-Nabi wat camtu? one of the reasons ialah krn bila org2 ni masuk Islam, then org2 lain pun akan ikut masuk Islam. Ini termasuk strategy dakwah.
o0o, mmgla. Dlm konsert tu kwsn lelaki/wanita dipisahkan. Lagu2 yg dinyanyikan pun xla yg boleh mengkhayalkan atau yg lari dr batasan Islam. Tp kan, ni 1 pembaharuan di Kelantan tau. Dulu tak pernah ada sebarang konsert pun di sini.
Post a Comment
<< Home