Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Shakhr ra., ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia memandang kepada hati kalian." [HR. Muslim] *** "Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Sertailah (tutuplah) kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan tadi akan menghapus kejelekan, dan gaulilah manusia dengan akhlak yang baik." [HR. Tirmidzi] *** Dari Abu Sa'id dan Abu Hurairah ra., dari Nabi Saw., ia berkata: "Seorang muslim yang tertimpa kecelakaan, kemelaratan, kegundahan, kesedihan, kesakitan maupun kedukacitaan, sampai yang tertusuk duri pun, niscaya Allah akan mengampuni dosanya sesuai apa yang menimpanya." [HR. Bukhari dan Muslim] *** Dari Anas ra., ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: "Apabila Allah menghendaki hamba-Nya menjadi orang yang baik, maka Dia menyegerakan siksaannya di dunia, dan apabila Allah menghendaki hamba-Nya menjadi orang jahat, maka Dia menangguhkan balasan dosanya sehingga Allah akan menuntutnya pada hari Kiamat." [HR. Bukhari dan Muslim]

Tuesday, May 09, 2006

MEREKA TOLONG MENOLONG DALAM KEBATHILAN

oleh Webmaster


[Jakarta, lilin-kecil.blogspot] Sejarah manusia tidak pernah luput dari kisah peperangan antara kelompok yang memperjuangkan kebenaran (haq) dengan kelompok yang memperjuangkan kemungkaran (bathil). Kedua kelompok ini masing-masing mempunyai ciri-ciri tersendiri. Ciri-ciri tersebut tentu saja berbeda satu sama lain ditinjau dari sudut pandang mana pun karena keduanya memiliki konsep dasar yang tidak sama. Kelompok yang pertama mengacu pada konsep dasar untuk memperoleh keridhaan Allah S.W.T. yakni mengikuti jalan yang telah diajarkan dan ditempuh oleh para Rasul dan orang-orang shaleh. Sedangkan kelompok yang kedua mengacu pada konsep dasar mengikuti hawa nafsu untuk memperoleh kesenangan duniawi semata dan mengingkari keberadaan hari perhitungan (yaumil hisab) di akhirat kelak.

Iblis merupakan pelopor kelompok yang kedua (bathil) tatkala ia pertama kali menyatakan pembangkangannya terhadap perintah Allah untuk “sujud” atau mengakui kemuliaan Nabi Adam a.s. sebagaimana keterangan Allah dalam surah Al-Baqarah:

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Terjemahan QS. Al-Baqarah ayat: 34).


Sebelum peristiwa pembangkangan itu terjadi tidak pernah ada satu pun makhluk ciptaan Allah yang berani menentang perintah-Nya. Kekecewaan Iblis terhadap kehendak Allah yang lebih meninggikan derajat makhluk baru dari golongan manusia bernama Adam a.s. mendorong Iblis untuk membangkang perintah Allah. Dorongan ini timbul dari sifat sombong yang terdapat dalam diri Iblis karena merasa diri lebih baik dari pada makhluk lain. Allah Ta’ala menjelaskan tentang hal ini:

“Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”.” (Terjemahan QS. Al-A’raaf ayat: 12-13).


Hakikat dari pembangkangan Iblis ini tidak boleh kita lihat hanya sebatas penolakan Iblis untuk sujud kepada Nabi Adam a.s. dan kesombongan Iblis yang merasa diri lebih mulia dari pada makhluk lain. Namun lebih dari itu pembangkangan Iblis merupakan simbol keingkaran makhluk terhadap perintah Penciptanya yang merupakan sifat dasar dari kekafiran. Allah Ta’ala berfirman:

“…maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Terjemahan QS. Al-Baqarah ayat: 34).


Perintah Allah adalah hukum dan hukum itu wajib dipatuhi tanpa syarat apa pun. Karena itu keingkaran dan penolakan terhadap hukum-hukum Allah baik diperlihatkan secara nyata dalam bentuk ucapan, tulisan dan perilaku mau pun tersembunyi di dalam hati, menjadi salah satu indikasi nyata kekafiran terhadap Allah.

Alih-alih bertobat dari kesalahannya, Iblis malah semakin menceburkan dirinya ke dalam kekafiran dan kegelapan. Iblis tidak pernah menyangkal kekafiran dan kesesatan dirinya bahkan ia kemudian meminta masa hidup dan peluang untuk mengajak manusia ke dalam kekafiran dan kesesatan itu. Dengan kata lain Iblis mencurahkan seluruh hidupnya untuk mengajak manusia masuk ke dalam golongannya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Berkata iblis: “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan”. Allah berfirman: “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan”. Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”.” (Terjemahan QS. Al-Hijr ayat: 36-40).


Konsep Perjuangan dan Strategi Iblis

Dalam melaksanakan misi hidupnya Iblis tidak bekerja sendiri. Ia mengumpulkan bala tentara, kaki tangan, kader-kader dan simpatisan-simpatisan yang tidak terhingga jumlahnya baik dalam wujud jin maupun manusia. Mereka ada yang beroperasi secara individu (perorangan) dan ada juga yang beroperasi secara kelompok. Namun di mana pun pengikut-pengikut Iblis ini berada, mereka selalu saja memiliki konsep perjuangan yang sama sebagaimana yang telah diikrarkan sendiri oleh tuan mereka (Iblis) ketika menyatakan kekafirannya, yakni; menjadikan golongan manusia memandang baik perbuatan maksiat yang mereka lakukan dan menyesatkan mereka (dari jalan yang diridhai Allah). Konsep yang demikian itu sekaligus juga menjadi ciri khas atau karakteristik dari para pengikut Iblis. Konsep ini selalu dikemas sedemikian rupa disesuaikan dengan waktu, tempat dan kondisi.

Aktifitas pemutar balikan fakta dan penyesatan informasi merupakan strategi utama yang selalu digunakan Iblis agar manusia memandang baik perbuatan maksiat yang mereka lakukan dan tersesat selama-lamanya. Cara seperti ini bahkan telah diprakarsai sendiri oleh Iblis ketika memperdaya Nabi Adam a.s. dan Siti Hawa r.a. hingga berakibat keduanya dikeluarkan dari syurga. Karena itu Iblis dan para pengikutnya sadar betul bahwa media informasi merupakan alat pemutar balikan fakta dan penyesatan informasi yang paling efektif yang wajib mereka kuasai. Media-media ini terutama berfungsi sebagai sarana perang pemikiran terhadap dakwah menuju jalan Allah dan alat propaganda hidup ala Iblis.

Iblis dan para pengikutnya juga memiliki kemampuan mengorganisir diri dan infiltrasi (penyusupan) yang sangat tinggi. Mereka sanggup mengorganisir diri dalam berbagai bentuk seperti; negara dan komunitas pencinta kemaksiatan, organisasi-organisasi yang mempropagandakan kebebasan atau penyimpangan, media-media informasi penyebar kesesatan dan penipu kebenaran, dan lain sebagainya. Mereka juga pandai menyusup masuk dan bergabung ke dalam lingkungan sosial dan organisasi kemasyarakatan untuk melakukan pembusukan dan penghancuran dari dalam. Keahlian tersebut tidak mengherankan dimiliki oleh Iblis dan para pengikutnya disebabkan umur Iblis itu sendiri sangatlah panjang sehingga ia memiliki pengalaman yang luar biasa banyaknya untuk menyesatkan manusia.

Saling Tolong Menolong

Karena memiliki konsep perjuangan atau kepentingan yang sama maka kelompok-kelompok asuhan Iblis juga saling tolong menolong satu sama lain dalam menyukseskan program-program Iblis. Misalnya di saat kelompok-kelompok bersenjata mereka melakukan tindakan biadab dan terorisme berupa penghancuran, pembunuhan, pemerkosaan dan pemusnahan umat manusia secara besar-besaran pada satu wilayah di muka bumi ini, maka kelompok-kelompok media informasi mereka melakukan manipulasi fakta dan penyesatan informasi guna menyembunyikan atau membenarkan kedzaliman itu. Pada saat yang lain ketika kelompok-kelompok pemikiran mereka menganjurkan pembangkangan terhadap hukum-hukum Allah dan mempropagandakan kemaksiatan, maka kelompok-kelompok media informasi mereka juga ikut mendukung dan menyebarluaskannya dalam tipu daya kemasan gaya hidup modern, kebebasan (liberalisme) atau kemanusiaan (humanisme).

Sangat banyak contoh dari kerjasama kelompok-kelompok bathil dalam memperjuangkan misi-misi Iblis. Antara lain serangan terorisme besar-besaran yang dilakukan oleh sekelompok negara pendukung kebebasan yang dipimpin oleh Amerika Serikat (USA). Dengan dalih membebaskan bangsa suatu negara dari sistem kehidupan lama yang buruk yang dituduh mengancam tidak saja bangsa dari negara itu tapi juga bangsa-bangsa dari negara lain menuju kepada sistem kehidupan baru yang mereka sebut demokrasi, kelompok negara-negara yang memiliki riwayat sebagai penjajah itu mengirimkan ratusan ribu tentara haus darahnya ke Somalia, Afghanistan dan Irak. Pada kenyataannya mereka bukannya membawa sistem kehidupan yang lebih baik tapi justru menyebabkan kehancuran, jutaan nyawa manusia hilang dan penderitaan yang berkepanjangan bagi yang masih hidup.

Belakangan ini tidak cukup hanya dengan senjata, Amerika Serikat dan kaki tangannya juga melakukan pengucilan dan teror terhadap bangsa Palestina yang ingin hidup damai dan sejahtera di tanah airnya sendiri, serta memperoleh kembali hak-haknya yang telah dirampas oleh bangsa perampok Zionis Israel.

Di Indonesia sendiri kelompok-kelompok bathil juga tiada henti-hentinya bekerjasama melakukan tipu daya dan penyesatan. Atas nama kebebasan dan hak asasi manusia mereka mengusung jargon-jargon Pluralisme, Sekularisme dan Liberalisme yang tidak lain adalah misi-misi Iblis dalam kemasan modern.

Kelompok bathil ini menolak mentah-mentah adanya kebenaran yang hakiki dalam suatu agama. Mereka menganjurkan Pluralisme yaitu mengakui kebenaran semua agama, kepercayaan atau pun keyakinan. Tidak peduli apakah agama atau keyakinan itu menganjurkan penganutnya untuk berbuat maksiat dan menyembah setan, manusia, pohon, patung atau binatang sekali pun. Bagi mereka apa yang disebut sebagai kebenaran haruslah bersifat relatif, karena itu suatu agama dilarang keras mengklaim bahwa ajarannya adalah yang paling benar bagi penganutnya. Dengan kata lain seseorang dari suatu agama tertentu diharuskan mengakui juga kebenaran ajaran dari agama lain, ini sama artinya dengan memaksa seseorang untuk meragukan kebenaran agamanya sendiri.

Jika agamanya sendiri sudah diragukan kebenarannya lantas untuk apa lagi seseorang harus beragama atau memiliki keyakinan? Tentu saja memang hal inilah yang sebenarnya diinginkan oleh Iblis dan para pengikutnya, yaitu hilangnya kebenaran yang hakiki dari kehidupan manusia disebabkan kebenaran itu telah bercampur aduk dengan kebathilan. Melalui pluralisme itu kaum muslimin yang pada mulanya mempercayai Al-Islam sebagai jalan hidupnya secara perlahan didorong untuk meragukan jalan hidupnya itu. Begitu kaum muslimin mulai ragu dengan Al-Islam sebagai jalan hidupnya, maka mereka akan menganggap enteng ajaran agamanya, melecehkan, menghina dan tidak berusaha membelanya. Pada kondisi yang sudah parah mereka akan meninggalkan Al-Islam itu sebagai agama dan bergabung dengan kelompok pengikut setia Iblis.

Kelompok-kelompok bathil ini juga menganjurkan Sekularisme yaitu pemisahan antara kehidupan bernegara dengan kehidupan beragama. Artinya negara tidak boleh ikut campur dalam urusan agama karena menurut mereka urusan agama adalah hal yang bersifat pribadi dan tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan bernegara. Sungguh, hanya orang-orang yang mengingkari akan adanya hari akhirat saja yang sanggup menerima ide ini. Bagi seorang muslim kepercayaan terhadap adanya hari akhirat merupakan bagian dari keimanannya. Cara ia menjalankan kehidupannya di dunia menjadi faktor penentu selamat atau tidaknya ia di akhirat nanti. Oleh karena itu kehidupan seorang muslim selalu terikat dengan aturan-aturan agamanya dan negara berkewajiban menjamin agar aturan-aturan tersebut dapat dijalankan dengan baik.

Puncaknya kelompok-kelompok bathil ini menganjurkan Liberalisme yaitu kebebasan yang seluas-luasnya dalam semua aspek kehidupan manusia. Mereka menginginkan liberalisasi dalam semua hal termasuk pemikiran, pendidikan, akidah, ajaran-ajaran agama bahkan kitab suci. Kebebasan tidak mengenal batas yang mereka inginkan sesuai sekali dengan misi Iblis agar manusia tersesat sejauh-jauhnya dari jalan yang diridhai Allah karena mengikuti hawa nafsunya tanpa aturan.

Belum lama ini di Jakarta muncul sebuah aksi unjuk rasa yang diberi nama Karnaval Budaya menolak Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU-APP). Karnaval ini sebenarnya lebih tepat disebut Karnaval Bathil dari pada Karnaval Budaya. Alasan pertama, karena ide yang diusung oleh kelompok yang menamakan diri Aliansi Bhinneka Tunggal Ika ini adalah penolakan terhadap suatu rancangan undang-undang yang hendak mengatur tata susila masyarakat khususnya dalam hal pornografi dan pornoaksi yang semakin marak terjadi di Indonesia. Kelompok ini menolak keterlibatan negara dalam mengatur tata susila baik cara berpakaian mau pun cara berprilaku masyarakat. RUU yang hendak disyahkan itu dianggap mengekang kreatifitas seni dan kebebasan masyarakat dalam berekspresi. Anehnya jika kita membaca dengan baik isi RUU tersebut maka sama sekali tidak terdapat unsur-unsur pengekangan terhadap kreatifitas seni dan kebebasan berekspresi, kecuali jika yang dimaksud dengan kreatifitas seni dan kebebasan berekspresi oleh kelompok ini adalah seni pornografi dan ekspresi pornoaksi.

Kelompok ini bahkan tanpa logika yang cerdas menuduh bahwa RUU tersebut mengandung unsur ajaran agama tertentu terutama Islam padahal RUU-APP itu sama sekali tidak memasukkan kaidah-kaidah hukum Islam sebagai acuan. Kaidah hukum (undang-undang) Islam yang bersumber dari Al-Qur’aan dan Sunnah jika benar-benar diterapkan akan jauh lebih baik dan sempurna dari pada undang-undang buatan manusia semacam RUU-APP itu. Namun demikian walaupun RUU tersebut masih jauh dari sempurna, ia tetap diperlukan setidak-tidaknya untuk saat ini guna memperlambat gerakan misi penghancuran tata nilai dalam masyarakat dan penjerumusan masyarakat ke jurang kebathilan. Oleh karena itu semua pihak yang menginginkan terciptanya masyarakat yang tertib, aman, berakhlak baik, bermartabat dan mempunyai masa depan sudah seharusnya mendukung lahirnya RUU-APP.

Alasan kedua, karena dalam aksinya kelompok ini melakukan perbuatan mungkar seperti mempertontonkan aurat secara vulgar dengan berpakaian minim bahkan memperlihatkan (maaf) payudara, sebagaimana yang dilaporkan sebuah situs berita nasional Indonesia.

Pamer payudara ini dilakukan sekelompok orang yang berkumpul di mobil tronton, tempat panggung didirikan di pojok kawasan Bundaran HI, Jakarta, Sabtu (22/4/2006). Mereka tampak mengenakan pakaian serba seksi. Tiba-tiba salah seorang dari mereka mengangkat pakaiannya ke atas dan memamerkan payudaranya. Pemamer payudara ini tampak melakukannya dengan sukacita. Teman-teman satu kelompoknya juga tampak tertawa-tawa. Dilihat dari tampangnya, tampaknya mereka bukan dari kalangan perempuan, tapi dari kalangan waria. Banyak tokoh dan artis yang mengikuti acara ini. Antara lain, istri Gus Dur; Sinta Nuriyah, pedangdut goyang ngebor Inul, pemain sinetron Rieke Dyah Pitaloka, Becky Tumewe, Jajang C Noer, Lia Waroka, Olga Lidya, Ratna Sarumpaet, dan lain-lain. (Indra Shalihin, Detikcom 22/4/2006).

Aliansi Bhinneka Tunggal Ika ini seperti sekelompok orang yang ketakutan dan panik dengan kemunculan suatu aturan yang akan mengekang kebebasan mereka untuk berbuat maksiat hingga kemudian mereka menghalalkan segala cara untuk mencegah RUU tersebut disyahkan menjadi undang-undang.

Kita harus menyadari bahwa tidak hanya orang-orang yang memperjuangkan kebenaran saja yang berkelompok dan saling tolong menolong satu sama lain tapi orang-orang yang memperjuangkan kebathilan juga melakukan hal yang sama. Allah Ta’ala telah memberi petunjuk tentang hal ini dalam firman-Nya:

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.” (Terjemahan QS. At-Taubah ayat: 67).


Yang dimaksud dengan fasik adalah ingkar terhadap perintah-perintah Allah. Karena Iblis merupakan pelopor kefasikan maka para pengikutnya juga memiliki karakteristik seperti itu. Selain itu mereka juga mendustakan adanya hari berbangkit atau perhitungan di akhirat nanti.

Kaum muslimin sebagai komunitas ummat yang telah dengan tegas menyatakan diri sebagai pihak yang berseberangan dengan kelompok para pengikut Iblis haruslah membentengi diri dengan keimanan yang kokoh dalam menghadapi tipu daya Iblis dan para pengikutnya. Keimanan tersebut harus selalu diperkuat dengan ilmu-ilmu tentang Islam yang diamalkan secara menyeluruh. Kaum muslimin harus selalu berupaya untuk mencapai tingkatan hamba Allah yang Mukhlis. Kedudukan tersebut merupakan tingkatan puncak dari 4 tingkat kedudukan hamba-hamba Allah yakni; Muslim, Mukmin, Muhsin dan Mukhlis. Pada tingkatan ini Iblis dan para pengikutnya tidak akan sanggup melakukan tipu dayanya sebagaimana yang diakui sendiri oleh Iblis.

Allah Ta’ala berfirman:

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”. Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya)”.” (Terjemahan QS. Al-Hijr ayat: 39-41).


Sekarang tinggal kita memilih apakah kita ingin termasuk ke dalam kelompok yang memperjuangkan kemungkaran ataukah kita ingin bergabung ke dalam kelompok yang memperjuangkan kebenaran sebagaimana firman Allah:

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Terjemahan QS. At-Taubah ayat: 71).


Jika kelompok yang memperjuangkan kebathilan saja sanggup saling tolong-menolong dan mengerahkan seluruh daya upayanya untuk memperjuangkan misi Iblis lantas mengapa kita tidak sanggup saling tolong-menolong dalam memperjuangkan tegaknya syari’at Allah (hukum-hukum Islam)?

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (Terjemahan QS. At-Taubah ayat: 119).


Wallahu a’lam bis shawab.

Thursday, April 20, 2006

HAKIKAT KEHIDUPAN MANUSIA

oleh Webmaster

Image and video hosting by TinyPic

Setiap orang pasti memiliki tujuan hidup bahkan lebih dari itu setiap orang membutuhkannya. Tujuan hidup yang benar tentunya harus didasarkan pada pemahaman (mafahim) yang benar terhadap hakikat dari hidup itu sendiri. Oleh karena itu penting bagi kita untuk memahami dengan baik hakikat kehidupan atau penciptaan manusia. Salah satu cara yang bisa digunakan untuk memahami hal tersebut adalah dengan mempelajari fase-fase kehidupan yang dilalui manusia.

Secara kronologis terdapat 3 fase yang dilalui oleh manusia, yaitu:
1. Sebelum kehidupan di dunia
2. Kehidupan di dunia
3. Kehidupan setelah di dunia

1. Fase Sebelum Kehidupan di Dunia

Kita tentu sudah sering membaca, mendengar atau bahkan melihat berbagai potongan sejarah masa lalu manusia. Kisah-kisah kehebatan dan kehancuran bangsa Yunani, Romawi, Persia, Kekhalifahan Islam, Revolusi Perancis, Revolusi Rusia, Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan lain sebagainya. Lantas muncul pertanyaan: "Dimanakah kita pada saat peristiwa-peristiwa itu terjadi?" dan "Kenapa kita baru ada dan muncul di masa sekarang?"

Sesuai dengan kemampuan akal manusia maka pertanyaan pertama dapat dijawab dengan: "Kita tidak berada di mana-mana pada saat peristiwa itu terjadi karena kita memang belum ada." Sedangkan pertanyaan kedua sangat sulit untuk menemukan jawabannya hingga akhirnya kita menyadari bahwa jawabannya adalah: "Karena memang demikian yang dikehendaki Allah." Jadi, sebelum muncul atau terlahir ke dunia ini ada satu tahap yang pernah kita lalui, yaitu suatu keadaan di mana kita belum menjadi apa-apa, nihil atau tidak berwujud sama sekali.

Kedua pertanyaan di atas sangat baik untuk dijadikan sebagai bahan renungan dan introspeksi diri. Demikian lemahnya manusia sehingga ia tidak memiliki kuasa apapun untuk memilih kapan dan di mana ia terlahir dan mati, karena itu sungguh tidak pantas jika kemudian manusia bersikap sombong apalagi berani menentang aturan-aturan Allah S.W.T. Na'udzubillahi min dzalik.

2. Fase Kehidupan di Dunia

Kehidupan manusia di dunia dimulai sejak mereka terlahir sebagai makhluk hidup atau keluar dari rahim ibu sampai datangnya ajal (kematian). Sebagian ahli Hadits bahkan menyatakan bahwa kehidupan manusia sesungguhnya sudah dimulai sejak ditiupkannya ruh ke dalam janin yang berada di dalam rahim seorang ibu. Atas qudrah dan iradah dari Allah, malaikat datang ke rahim seorang perempuan yang sedang mengandung pada saat kandungannya berumur kira-kira 40 hari atau enam minggu untuk meniupkan ruh bagi calon manusia yang masih berupa janin tersebut. Pendapat mereka tersebut didasarkan pada firman Allah berikut ini.

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati (yang berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu (segumpal) darah itu Kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Kemudian tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Sesudah itu Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka, Maha Sucilah Allah Pencipta Yang Paling Baik." (Terjemahan QS. Al-Mu'minuun ayat: 12-14).

Dalam penciptaan manusia tentu saja terdapat maksud dan tujuan. Sangat mustahil jika Allah S.W.T. menciptakan manusia tanpa tujuan (sia-sia), sekedar untuk main-main, atau untuk bereksperimen sebagaimana yang dikatakan oleh para penganut paham sekuler-liberal. Seorang ilmuwan yang membuat atau menciptakan suatu karya saja mempunyai maksud dan tujuan dari penciptaan karyanya tersebut, apalagi Allah S.W.T.

Ada pun tujuan dari penciptaan manusia dinyatakan secara jelas oleh Allah dalam Al-Qur'aan:

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Ku." (Terjemahan QS. Adz-Dzaariyaat ayat: 56).

"Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (Terjemahan QS. Al-An'aam ayat: 162).


Makna ibadah adalah tha'atullah wa khudlu'u lahu wa iltizamu ma syara'a minaddini (taat kepada Allah, tunduk kepada-Nya dan berpegang teguh pada apa yang telah disyari'atkan-Nya di dalam agama Islam).[1] Oleh karena itu setiap manusia wajib mengarahkan seluruh tujuan hidupnya kepada pemenuhan keta'atan dan ketundukan kepada Allah S.W.T.

Untuk membimbing manusia dalam memahami dan melaksanakan kewajibannya tersebut, maka Allah kemudian mengutus para Rasul sebagai pembawa petunjuk atau risalah dari Allah, sekaligus sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Nabi Muhammad S.A.W. merupakan Rasul terakhir yang diutus oleh Allah S.W.T untuk menyempurnakan risalah-risalah dari para Rasul sebelum Beliau S.A.W. sedangkan Al-Qur'aan adalah risalah itu sendiri. Al-Qur'aan adalah kitab yang memuat secara lengkap dan sempurna semua keterangan tentang hakikat dan tujuan penciptaan manusia termasuk cara memenuhi tujuan penciptaan tersebut, karena itulah Al-Qur'aan juga disebut sebagai aturan hidup bagi manusia.

Allah Ta'ala berfirman:

"Inilah Kitab (Al-Qur'aan), tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang yang bertaqwa." (Terjemahan. QS. Al-Baqarah ayat: 2).

Fase sebelum kehidupan di dunia memiliki keterikatan yang erat dengan fase kehidupan di dunia. Keterikatan tersebut berupa hubungan antara penciptaan dengan perintah dan larangan (shilatu al khalq dan shilatul awamir wan nawahi). Dengan kata lain, bersamaan dengan diciptakannya manusia diciptakan pula aturan hidupnya yang mencakup perintah dan larangan. Aturan tersebut dibuat oleh Allah untuk menyelamatkan manusia dari kehancuran dan penderitaan, baik dalam kehidupan di dunia maupun dalam kehidupan setelah di dunia (akhirat). Karena penciptaan manusia menjadi sebab bagi penciptaan aturan hidupnya maka aturan hidup itu kemudian secara otomatis menjadi fitrah bagi manusia. Oleh karena itu manusia yang tidak bersedia menerima aturan hidup dari Penciptanya pantas dikatakan sebagai manusia yang menolak fitrahnya.

3. Fase Kehidupan Setelah di Dunia

Setiap makhluk hidup suatu saat nanti pasti akan mati. Kematian itu datang dalam berbagai sebab dan keadaan serta pada waktu yang tidak bisa diketahui sebelumnya, hanya Allah saja Yang Mengetahui rahasianya. Kematian merupakan akhir dari kehidupan di dunia bagi manusia dan sekaligus menjadi awal bagi kehidupan berikutnya yaitu kehidupan setelah di dunia.

Allah Ta'ala berfirman:

"Kemudian, sesudah itu sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati, kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat." (Terjemahan. QS. Al-Mu'minuun ayat: 15-16).

"Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan dari padanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain." (Terjemahan. QS. Thaahaa ayat: 55).


Allah menciptakan kehidupan akhirat sebagai tempat perhitungan (hisab) bagi manusia dan jin atas semua perbuatan yang pernah mereka lakukan sewaktu hidup di dunia. Sungguhlah tidak adil jika manusia yang telah berbuat semaunya di dunia, dibiarkan begitu saja tanpa hisab sedikit pun. Di sanalah nanti (yaumil hisab) di mana tidak seorang pun yang akan diperlakukan secara tidak adil meski sebesar partikel atom sekalipun. Setiap orang akan menerima hasil dari apa yang telah mereka tanam dan usahakan dahulunya dalam kehidupan dunia, dan Allah adalah sebaik-baik Hakim.

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga)." (Terjemahan. QS. An-Najm ayat: 31).

"Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya. Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun." (Terjemahan. QS. Al-Kahfi ayat: 49).


Jika kita baca keterangan-keterangan Allah dalam Al-Qur'aan tentang keadaan manusia di akhirat nanti, maka dapat disimpulkan bahwa akan terdapat sedikitnya 3 jenis manusia beserta keadaan masing-masingnya setelah yaumil hisab.

1. Manusia beriman yang taat pada aturan-aturan Allah

Manusia yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (muslim, red) serta menjalankan kehidupannya sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan Allah akan ditempatkan di dalam surga dan mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka merasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya oleh siapapun, bahkan kenikmatan dan kebahagiaan itu belum pernah terpikirkan dan terbersit dalam hati manusia sebelumnya. Mereka adalah kelompok manusia yang beruntung yang rela menukar kenikmatan dunia dengan keta'atan kepada Allah sehingga memetik hasil yang lebih baik di kehidupan akhirat.

Allah Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang beriman dan mengerjakan amal shaleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya." (Terjemahan QS. Al-Bayyinah ayat: 7-8).

"Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertaqwa." (Terjemahan QS. Maryam ayat: 63).


2. Manusia beriman tapi ingkar pada aturan-aturan Allah

Jenis manusia seperti ini meskipun beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tapi dalam praktek kehidupannya di dunia tidak luput dari pelanggaran terhadap aturan-aturan yang ditetapkan Allah. Mereka biasanya lalai dari mengingat Allah, memperturutkan hawa nafsu dan terlena dengan kenikmatan dunia. Manusia yang berperilaku seperti ini di akhirat nanti akan ditempatkan dalam neraka untuk menerima pembalasan atas semua perbuatan dosa yang pernah mereka lakukan.

Allah Ta'ala berfirman:

"Tidak ada yang masuk ke dalamnya (neraka) kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman). Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling taqwa dari neraka itu." (Terjemahan QS. Al-Lail ayat: 15-17).

Meskipun diazab dalam neraka, namun mereka tidak kekal di dalamnya disebabkan masih ada iman dalam hati mereka sewaktu hidup di dunia. Lama keberadaan mereka di neraka sangat tergantung pada jenis dan besar dosa yang telah mereka perbuat. Namun demikian kepedihan dan siksaan yang mereka rasakan tidak lebih baik dari siksaan yang diterima oleh orang-orang kafir yang juga berada di dalam neraka. Pada saat itu mereka juga akan menyesali keadaannya disebabkan dahulu semasa hidup dunia sering kali ingkar dan tidak banyak beramal. Mereka dahulu mengira kehidupan dunia yang sementara ini lebih utama daripada kehidupan akhirat yang abadi sehingga secara sengaja melalaikan kewajibannya untuk tunduk dan ta'at kepada Allah S.W.T.

Padahal Allah Ta'ala berfirman:

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu; wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu? Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka) dikaruniai istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya." (Terjemahan QS. Ali-Imran ayat: 14-15).

"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." (Terjemahan QS. Al-Kahfi ayat: 46).

"Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shaleh) untuk hidupku ini." (Terjemahan QS. Al-Fajr ayat: 23-24).


3. Manusia yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (kafir).

Manusia yang tidak mau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya sampai datangnya sakaratul maut, akan langsung ditempatkan ke dalam neraka Jahannam tanpa dihisab lagi. Walaupun semasa hidup di dunia mungkin mereka melakukan banyak kebajikan, tapi karena perbuatan itu tidak didasari iman kepada Allah dan Rasul-Nya maka amal-amal kebajikan itu menjadi tidak ada berarti sama sekali dan tidak dapat menolong mereka sedikitpun juga. Jenis manusia seperti ini akan kekal berada di dalam neraka selama-lamanya. Mereka merasakan kepedihan dan siksaan yang terus menerus, serta kesakitan dan penderitaan yang luarbiasa dahsyat yang tidak pernah dirasakan bahkan terbayangkan oleh siapa pun sebelumnya. Mereka sangat menyesali keadaannya itu disebabkan dahulu tidak beriman ketika hidup di dunia, tetapi tentu saja penyesalan sudah terlambat dan tidak ada gunanya pada saat itu.

Allah Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk." (Terjemahan QS. Al-Bayyinah ayat: 6).

"Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya. Dan orang kafir berkata: alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah." (Terjemahan QS. An-Naba' ayat: 40).


Penutup

Penciptaan dan perintah-perintah Allah merupakan pokok pangkal adanya kehidupan dunia, sedangkan perhitungan amal perbuatan manusia atas apa yang dikerjakannya di dunia merupakan mata rantai dengan kehidupan setelah dunia, maka kehidupan dunia ini harus dihubungkan dengan apa yang ada pada sebelum dan sesudah kehidupan dunia. Manusia harus terikat dengan hubungan tersebut. Oleh karena itu, manusia wajib berjalan dalam kehidupan ini sesuai dengan peraturan Allah, dan wajib meyakini bahwa ia akan dihisab di hari kiamat nanti atas seluruh perbuatan yang dilakukannya di dunia. [2]

Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri untuk apa kita hidup dan kemana hidup ini mesti diarahkan? Pernahkah kita berhenti sejenak diantara kesibukan dunia ini untuk memikirkan dan mengevaluasi masa-masa yang telah kita lewati? atau menyusun kembali langkah-langkah terbaik yang akan dilakukan untuk kehidupan di masa mendatang?

Orang yang beruntung adalah orang yang selalu memikirkan dan mengevaluasi kehidupannya yaitu kehidupan yang telah, sedang, dan akan dijalaninya. Dari hasil pemikiran dan evaluasi itu mereka kemudian berusaha memperbaiki diri, memperbanyak amal shaleh dan mengajak orang lain kepada kebaikan dan taqwa.

Allah Ta'ala berfirman:

"Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (Terjemahan. QS. Al- 'Ashr ayat: 1-3).

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Dan semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang dijanjikan surga oleh Allah S.W.T. dan Allah sekali-kali tidak pernah mengingkari janji.

Wallahu a'lam bis shawab

Maraji':

1. Muhammad Rahmat Kurnia, Presentasi "Hidup Bermakna", Sukabumi, 2003.
2. Syekh Taqiyuddin An-Nabani, Peraturan Hidup Dalam Islam, Pustaka Thariqul Izzah, Bogor, 2001.