Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Shakhr ra., ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia memandang kepada hati kalian." [HR. Muslim] *** "Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Sertailah (tutuplah) kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan tadi akan menghapus kejelekan, dan gaulilah manusia dengan akhlak yang baik." [HR. Tirmidzi] *** Dari Abu Sa'id dan Abu Hurairah ra., dari Nabi Saw., ia berkata: "Seorang muslim yang tertimpa kecelakaan, kemelaratan, kegundahan, kesedihan, kesakitan maupun kedukacitaan, sampai yang tertusuk duri pun, niscaya Allah akan mengampuni dosanya sesuai apa yang menimpanya." [HR. Bukhari dan Muslim] *** Dari Anas ra., ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: "Apabila Allah menghendaki hamba-Nya menjadi orang yang baik, maka Dia menyegerakan siksaannya di dunia, dan apabila Allah menghendaki hamba-Nya menjadi orang jahat, maka Dia menangguhkan balasan dosanya sehingga Allah akan menuntutnya pada hari Kiamat." [HR. Bukhari dan Muslim]

Thursday, April 20, 2006

HAKIKAT KEHIDUPAN MANUSIA

oleh Webmaster

Image and video hosting by TinyPic

Setiap orang pasti memiliki tujuan hidup bahkan lebih dari itu setiap orang membutuhkannya. Tujuan hidup yang benar tentunya harus didasarkan pada pemahaman (mafahim) yang benar terhadap hakikat dari hidup itu sendiri. Oleh karena itu penting bagi kita untuk memahami dengan baik hakikat kehidupan atau penciptaan manusia. Salah satu cara yang bisa digunakan untuk memahami hal tersebut adalah dengan mempelajari fase-fase kehidupan yang dilalui manusia.

Secara kronologis terdapat 3 fase yang dilalui oleh manusia, yaitu:
1. Sebelum kehidupan di dunia
2. Kehidupan di dunia
3. Kehidupan setelah di dunia

1. Fase Sebelum Kehidupan di Dunia

Kita tentu sudah sering membaca, mendengar atau bahkan melihat berbagai potongan sejarah masa lalu manusia. Kisah-kisah kehebatan dan kehancuran bangsa Yunani, Romawi, Persia, Kekhalifahan Islam, Revolusi Perancis, Revolusi Rusia, Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan lain sebagainya. Lantas muncul pertanyaan: "Dimanakah kita pada saat peristiwa-peristiwa itu terjadi?" dan "Kenapa kita baru ada dan muncul di masa sekarang?"

Sesuai dengan kemampuan akal manusia maka pertanyaan pertama dapat dijawab dengan: "Kita tidak berada di mana-mana pada saat peristiwa itu terjadi karena kita memang belum ada." Sedangkan pertanyaan kedua sangat sulit untuk menemukan jawabannya hingga akhirnya kita menyadari bahwa jawabannya adalah: "Karena memang demikian yang dikehendaki Allah." Jadi, sebelum muncul atau terlahir ke dunia ini ada satu tahap yang pernah kita lalui, yaitu suatu keadaan di mana kita belum menjadi apa-apa, nihil atau tidak berwujud sama sekali.

Kedua pertanyaan di atas sangat baik untuk dijadikan sebagai bahan renungan dan introspeksi diri. Demikian lemahnya manusia sehingga ia tidak memiliki kuasa apapun untuk memilih kapan dan di mana ia terlahir dan mati, karena itu sungguh tidak pantas jika kemudian manusia bersikap sombong apalagi berani menentang aturan-aturan Allah S.W.T. Na'udzubillahi min dzalik.

2. Fase Kehidupan di Dunia

Kehidupan manusia di dunia dimulai sejak mereka terlahir sebagai makhluk hidup atau keluar dari rahim ibu sampai datangnya ajal (kematian). Sebagian ahli Hadits bahkan menyatakan bahwa kehidupan manusia sesungguhnya sudah dimulai sejak ditiupkannya ruh ke dalam janin yang berada di dalam rahim seorang ibu. Atas qudrah dan iradah dari Allah, malaikat datang ke rahim seorang perempuan yang sedang mengandung pada saat kandungannya berumur kira-kira 40 hari atau enam minggu untuk meniupkan ruh bagi calon manusia yang masih berupa janin tersebut. Pendapat mereka tersebut didasarkan pada firman Allah berikut ini.

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati (yang berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu (segumpal) darah itu Kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Kemudian tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Sesudah itu Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka, Maha Sucilah Allah Pencipta Yang Paling Baik." (Terjemahan QS. Al-Mu'minuun ayat: 12-14).

Dalam penciptaan manusia tentu saja terdapat maksud dan tujuan. Sangat mustahil jika Allah S.W.T. menciptakan manusia tanpa tujuan (sia-sia), sekedar untuk main-main, atau untuk bereksperimen sebagaimana yang dikatakan oleh para penganut paham sekuler-liberal. Seorang ilmuwan yang membuat atau menciptakan suatu karya saja mempunyai maksud dan tujuan dari penciptaan karyanya tersebut, apalagi Allah S.W.T.

Ada pun tujuan dari penciptaan manusia dinyatakan secara jelas oleh Allah dalam Al-Qur'aan:

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Ku." (Terjemahan QS. Adz-Dzaariyaat ayat: 56).

"Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (Terjemahan QS. Al-An'aam ayat: 162).


Makna ibadah adalah tha'atullah wa khudlu'u lahu wa iltizamu ma syara'a minaddini (taat kepada Allah, tunduk kepada-Nya dan berpegang teguh pada apa yang telah disyari'atkan-Nya di dalam agama Islam).[1] Oleh karena itu setiap manusia wajib mengarahkan seluruh tujuan hidupnya kepada pemenuhan keta'atan dan ketundukan kepada Allah S.W.T.

Untuk membimbing manusia dalam memahami dan melaksanakan kewajibannya tersebut, maka Allah kemudian mengutus para Rasul sebagai pembawa petunjuk atau risalah dari Allah, sekaligus sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Nabi Muhammad S.A.W. merupakan Rasul terakhir yang diutus oleh Allah S.W.T untuk menyempurnakan risalah-risalah dari para Rasul sebelum Beliau S.A.W. sedangkan Al-Qur'aan adalah risalah itu sendiri. Al-Qur'aan adalah kitab yang memuat secara lengkap dan sempurna semua keterangan tentang hakikat dan tujuan penciptaan manusia termasuk cara memenuhi tujuan penciptaan tersebut, karena itulah Al-Qur'aan juga disebut sebagai aturan hidup bagi manusia.

Allah Ta'ala berfirman:

"Inilah Kitab (Al-Qur'aan), tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang yang bertaqwa." (Terjemahan. QS. Al-Baqarah ayat: 2).

Fase sebelum kehidupan di dunia memiliki keterikatan yang erat dengan fase kehidupan di dunia. Keterikatan tersebut berupa hubungan antara penciptaan dengan perintah dan larangan (shilatu al khalq dan shilatul awamir wan nawahi). Dengan kata lain, bersamaan dengan diciptakannya manusia diciptakan pula aturan hidupnya yang mencakup perintah dan larangan. Aturan tersebut dibuat oleh Allah untuk menyelamatkan manusia dari kehancuran dan penderitaan, baik dalam kehidupan di dunia maupun dalam kehidupan setelah di dunia (akhirat). Karena penciptaan manusia menjadi sebab bagi penciptaan aturan hidupnya maka aturan hidup itu kemudian secara otomatis menjadi fitrah bagi manusia. Oleh karena itu manusia yang tidak bersedia menerima aturan hidup dari Penciptanya pantas dikatakan sebagai manusia yang menolak fitrahnya.

3. Fase Kehidupan Setelah di Dunia

Setiap makhluk hidup suatu saat nanti pasti akan mati. Kematian itu datang dalam berbagai sebab dan keadaan serta pada waktu yang tidak bisa diketahui sebelumnya, hanya Allah saja Yang Mengetahui rahasianya. Kematian merupakan akhir dari kehidupan di dunia bagi manusia dan sekaligus menjadi awal bagi kehidupan berikutnya yaitu kehidupan setelah di dunia.

Allah Ta'ala berfirman:

"Kemudian, sesudah itu sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati, kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat." (Terjemahan. QS. Al-Mu'minuun ayat: 15-16).

"Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan dari padanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain." (Terjemahan. QS. Thaahaa ayat: 55).


Allah menciptakan kehidupan akhirat sebagai tempat perhitungan (hisab) bagi manusia dan jin atas semua perbuatan yang pernah mereka lakukan sewaktu hidup di dunia. Sungguhlah tidak adil jika manusia yang telah berbuat semaunya di dunia, dibiarkan begitu saja tanpa hisab sedikit pun. Di sanalah nanti (yaumil hisab) di mana tidak seorang pun yang akan diperlakukan secara tidak adil meski sebesar partikel atom sekalipun. Setiap orang akan menerima hasil dari apa yang telah mereka tanam dan usahakan dahulunya dalam kehidupan dunia, dan Allah adalah sebaik-baik Hakim.

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga)." (Terjemahan. QS. An-Najm ayat: 31).

"Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya. Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun." (Terjemahan. QS. Al-Kahfi ayat: 49).


Jika kita baca keterangan-keterangan Allah dalam Al-Qur'aan tentang keadaan manusia di akhirat nanti, maka dapat disimpulkan bahwa akan terdapat sedikitnya 3 jenis manusia beserta keadaan masing-masingnya setelah yaumil hisab.

1. Manusia beriman yang taat pada aturan-aturan Allah

Manusia yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (muslim, red) serta menjalankan kehidupannya sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan Allah akan ditempatkan di dalam surga dan mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka merasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya oleh siapapun, bahkan kenikmatan dan kebahagiaan itu belum pernah terpikirkan dan terbersit dalam hati manusia sebelumnya. Mereka adalah kelompok manusia yang beruntung yang rela menukar kenikmatan dunia dengan keta'atan kepada Allah sehingga memetik hasil yang lebih baik di kehidupan akhirat.

Allah Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang beriman dan mengerjakan amal shaleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya." (Terjemahan QS. Al-Bayyinah ayat: 7-8).

"Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertaqwa." (Terjemahan QS. Maryam ayat: 63).


2. Manusia beriman tapi ingkar pada aturan-aturan Allah

Jenis manusia seperti ini meskipun beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tapi dalam praktek kehidupannya di dunia tidak luput dari pelanggaran terhadap aturan-aturan yang ditetapkan Allah. Mereka biasanya lalai dari mengingat Allah, memperturutkan hawa nafsu dan terlena dengan kenikmatan dunia. Manusia yang berperilaku seperti ini di akhirat nanti akan ditempatkan dalam neraka untuk menerima pembalasan atas semua perbuatan dosa yang pernah mereka lakukan.

Allah Ta'ala berfirman:

"Tidak ada yang masuk ke dalamnya (neraka) kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman). Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling taqwa dari neraka itu." (Terjemahan QS. Al-Lail ayat: 15-17).

Meskipun diazab dalam neraka, namun mereka tidak kekal di dalamnya disebabkan masih ada iman dalam hati mereka sewaktu hidup di dunia. Lama keberadaan mereka di neraka sangat tergantung pada jenis dan besar dosa yang telah mereka perbuat. Namun demikian kepedihan dan siksaan yang mereka rasakan tidak lebih baik dari siksaan yang diterima oleh orang-orang kafir yang juga berada di dalam neraka. Pada saat itu mereka juga akan menyesali keadaannya disebabkan dahulu semasa hidup dunia sering kali ingkar dan tidak banyak beramal. Mereka dahulu mengira kehidupan dunia yang sementara ini lebih utama daripada kehidupan akhirat yang abadi sehingga secara sengaja melalaikan kewajibannya untuk tunduk dan ta'at kepada Allah S.W.T.

Padahal Allah Ta'ala berfirman:

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu; wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu? Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka) dikaruniai istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya." (Terjemahan QS. Ali-Imran ayat: 14-15).

"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." (Terjemahan QS. Al-Kahfi ayat: 46).

"Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shaleh) untuk hidupku ini." (Terjemahan QS. Al-Fajr ayat: 23-24).


3. Manusia yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (kafir).

Manusia yang tidak mau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya sampai datangnya sakaratul maut, akan langsung ditempatkan ke dalam neraka Jahannam tanpa dihisab lagi. Walaupun semasa hidup di dunia mungkin mereka melakukan banyak kebajikan, tapi karena perbuatan itu tidak didasari iman kepada Allah dan Rasul-Nya maka amal-amal kebajikan itu menjadi tidak ada berarti sama sekali dan tidak dapat menolong mereka sedikitpun juga. Jenis manusia seperti ini akan kekal berada di dalam neraka selama-lamanya. Mereka merasakan kepedihan dan siksaan yang terus menerus, serta kesakitan dan penderitaan yang luarbiasa dahsyat yang tidak pernah dirasakan bahkan terbayangkan oleh siapa pun sebelumnya. Mereka sangat menyesali keadaannya itu disebabkan dahulu tidak beriman ketika hidup di dunia, tetapi tentu saja penyesalan sudah terlambat dan tidak ada gunanya pada saat itu.

Allah Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk." (Terjemahan QS. Al-Bayyinah ayat: 6).

"Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya. Dan orang kafir berkata: alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah." (Terjemahan QS. An-Naba' ayat: 40).


Penutup

Penciptaan dan perintah-perintah Allah merupakan pokok pangkal adanya kehidupan dunia, sedangkan perhitungan amal perbuatan manusia atas apa yang dikerjakannya di dunia merupakan mata rantai dengan kehidupan setelah dunia, maka kehidupan dunia ini harus dihubungkan dengan apa yang ada pada sebelum dan sesudah kehidupan dunia. Manusia harus terikat dengan hubungan tersebut. Oleh karena itu, manusia wajib berjalan dalam kehidupan ini sesuai dengan peraturan Allah, dan wajib meyakini bahwa ia akan dihisab di hari kiamat nanti atas seluruh perbuatan yang dilakukannya di dunia. [2]

Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri untuk apa kita hidup dan kemana hidup ini mesti diarahkan? Pernahkah kita berhenti sejenak diantara kesibukan dunia ini untuk memikirkan dan mengevaluasi masa-masa yang telah kita lewati? atau menyusun kembali langkah-langkah terbaik yang akan dilakukan untuk kehidupan di masa mendatang?

Orang yang beruntung adalah orang yang selalu memikirkan dan mengevaluasi kehidupannya yaitu kehidupan yang telah, sedang, dan akan dijalaninya. Dari hasil pemikiran dan evaluasi itu mereka kemudian berusaha memperbaiki diri, memperbanyak amal shaleh dan mengajak orang lain kepada kebaikan dan taqwa.

Allah Ta'ala berfirman:

"Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (Terjemahan. QS. Al- 'Ashr ayat: 1-3).

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Dan semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang dijanjikan surga oleh Allah S.W.T. dan Allah sekali-kali tidak pernah mengingkari janji.

Wallahu a'lam bis shawab

Maraji':

1. Muhammad Rahmat Kurnia, Presentasi "Hidup Bermakna", Sukabumi, 2003.
2. Syekh Taqiyuddin An-Nabani, Peraturan Hidup Dalam Islam, Pustaka Thariqul Izzah, Bogor, 2001.

3 Comments:

Blogger Akuro ® said...

All you give is what you get. As simple as that isn't it?

Article ni mmg Abang dh bg kat Ija dulu tp dlm version yg lbh pjg n detail.

If xsalah ija, 2 persoaalan pertama tu Abang tnya kat Si IT Officer ms dia nk debate w Abang psl fahaman ateist dia tu kan? Ada dlm 1 of your N3 b4.

Hehe! Great article, best sgt!

Applause to you...!

Friday, April 21, 2006 9:54:00 AM  
Blogger Kazuhiko said...

Alhamdulillah..moga bermanfaat. Iya article ni dah prnh abang krm kat akuro dahulu.

Tuesday, April 25, 2006 9:12:00 AM  
Blogger Akuro ® said...

Did you missed-look your tagboard? :-"

Tuesday, April 25, 2006 12:40:00 PM  

Post a Comment

<< Home