Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Shakhr ra., ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia memandang kepada hati kalian." [HR. Muslim] *** "Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Sertailah (tutuplah) kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan tadi akan menghapus kejelekan, dan gaulilah manusia dengan akhlak yang baik." [HR. Tirmidzi] *** Dari Abu Sa'id dan Abu Hurairah ra., dari Nabi Saw., ia berkata: "Seorang muslim yang tertimpa kecelakaan, kemelaratan, kegundahan, kesedihan, kesakitan maupun kedukacitaan, sampai yang tertusuk duri pun, niscaya Allah akan mengampuni dosanya sesuai apa yang menimpanya." [HR. Bukhari dan Muslim] *** Dari Anas ra., ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: "Apabila Allah menghendaki hamba-Nya menjadi orang yang baik, maka Dia menyegerakan siksaannya di dunia, dan apabila Allah menghendaki hamba-Nya menjadi orang jahat, maka Dia menangguhkan balasan dosanya sehingga Allah akan menuntutnya pada hari Kiamat." [HR. Bukhari dan Muslim]

Tuesday, May 09, 2006

MEREKA TOLONG MENOLONG DALAM KEBATHILAN

oleh Webmaster


[Jakarta, lilin-kecil.blogspot] Sejarah manusia tidak pernah luput dari kisah peperangan antara kelompok yang memperjuangkan kebenaran (haq) dengan kelompok yang memperjuangkan kemungkaran (bathil). Kedua kelompok ini masing-masing mempunyai ciri-ciri tersendiri. Ciri-ciri tersebut tentu saja berbeda satu sama lain ditinjau dari sudut pandang mana pun karena keduanya memiliki konsep dasar yang tidak sama. Kelompok yang pertama mengacu pada konsep dasar untuk memperoleh keridhaan Allah S.W.T. yakni mengikuti jalan yang telah diajarkan dan ditempuh oleh para Rasul dan orang-orang shaleh. Sedangkan kelompok yang kedua mengacu pada konsep dasar mengikuti hawa nafsu untuk memperoleh kesenangan duniawi semata dan mengingkari keberadaan hari perhitungan (yaumil hisab) di akhirat kelak.

Iblis merupakan pelopor kelompok yang kedua (bathil) tatkala ia pertama kali menyatakan pembangkangannya terhadap perintah Allah untuk “sujud” atau mengakui kemuliaan Nabi Adam a.s. sebagaimana keterangan Allah dalam surah Al-Baqarah:

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Terjemahan QS. Al-Baqarah ayat: 34).


Sebelum peristiwa pembangkangan itu terjadi tidak pernah ada satu pun makhluk ciptaan Allah yang berani menentang perintah-Nya. Kekecewaan Iblis terhadap kehendak Allah yang lebih meninggikan derajat makhluk baru dari golongan manusia bernama Adam a.s. mendorong Iblis untuk membangkang perintah Allah. Dorongan ini timbul dari sifat sombong yang terdapat dalam diri Iblis karena merasa diri lebih baik dari pada makhluk lain. Allah Ta’ala menjelaskan tentang hal ini:

“Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”.” (Terjemahan QS. Al-A’raaf ayat: 12-13).


Hakikat dari pembangkangan Iblis ini tidak boleh kita lihat hanya sebatas penolakan Iblis untuk sujud kepada Nabi Adam a.s. dan kesombongan Iblis yang merasa diri lebih mulia dari pada makhluk lain. Namun lebih dari itu pembangkangan Iblis merupakan simbol keingkaran makhluk terhadap perintah Penciptanya yang merupakan sifat dasar dari kekafiran. Allah Ta’ala berfirman:

“…maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Terjemahan QS. Al-Baqarah ayat: 34).


Perintah Allah adalah hukum dan hukum itu wajib dipatuhi tanpa syarat apa pun. Karena itu keingkaran dan penolakan terhadap hukum-hukum Allah baik diperlihatkan secara nyata dalam bentuk ucapan, tulisan dan perilaku mau pun tersembunyi di dalam hati, menjadi salah satu indikasi nyata kekafiran terhadap Allah.

Alih-alih bertobat dari kesalahannya, Iblis malah semakin menceburkan dirinya ke dalam kekafiran dan kegelapan. Iblis tidak pernah menyangkal kekafiran dan kesesatan dirinya bahkan ia kemudian meminta masa hidup dan peluang untuk mengajak manusia ke dalam kekafiran dan kesesatan itu. Dengan kata lain Iblis mencurahkan seluruh hidupnya untuk mengajak manusia masuk ke dalam golongannya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Berkata iblis: “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan”. Allah berfirman: “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan”. Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”.” (Terjemahan QS. Al-Hijr ayat: 36-40).


Konsep Perjuangan dan Strategi Iblis

Dalam melaksanakan misi hidupnya Iblis tidak bekerja sendiri. Ia mengumpulkan bala tentara, kaki tangan, kader-kader dan simpatisan-simpatisan yang tidak terhingga jumlahnya baik dalam wujud jin maupun manusia. Mereka ada yang beroperasi secara individu (perorangan) dan ada juga yang beroperasi secara kelompok. Namun di mana pun pengikut-pengikut Iblis ini berada, mereka selalu saja memiliki konsep perjuangan yang sama sebagaimana yang telah diikrarkan sendiri oleh tuan mereka (Iblis) ketika menyatakan kekafirannya, yakni; menjadikan golongan manusia memandang baik perbuatan maksiat yang mereka lakukan dan menyesatkan mereka (dari jalan yang diridhai Allah). Konsep yang demikian itu sekaligus juga menjadi ciri khas atau karakteristik dari para pengikut Iblis. Konsep ini selalu dikemas sedemikian rupa disesuaikan dengan waktu, tempat dan kondisi.

Aktifitas pemutar balikan fakta dan penyesatan informasi merupakan strategi utama yang selalu digunakan Iblis agar manusia memandang baik perbuatan maksiat yang mereka lakukan dan tersesat selama-lamanya. Cara seperti ini bahkan telah diprakarsai sendiri oleh Iblis ketika memperdaya Nabi Adam a.s. dan Siti Hawa r.a. hingga berakibat keduanya dikeluarkan dari syurga. Karena itu Iblis dan para pengikutnya sadar betul bahwa media informasi merupakan alat pemutar balikan fakta dan penyesatan informasi yang paling efektif yang wajib mereka kuasai. Media-media ini terutama berfungsi sebagai sarana perang pemikiran terhadap dakwah menuju jalan Allah dan alat propaganda hidup ala Iblis.

Iblis dan para pengikutnya juga memiliki kemampuan mengorganisir diri dan infiltrasi (penyusupan) yang sangat tinggi. Mereka sanggup mengorganisir diri dalam berbagai bentuk seperti; negara dan komunitas pencinta kemaksiatan, organisasi-organisasi yang mempropagandakan kebebasan atau penyimpangan, media-media informasi penyebar kesesatan dan penipu kebenaran, dan lain sebagainya. Mereka juga pandai menyusup masuk dan bergabung ke dalam lingkungan sosial dan organisasi kemasyarakatan untuk melakukan pembusukan dan penghancuran dari dalam. Keahlian tersebut tidak mengherankan dimiliki oleh Iblis dan para pengikutnya disebabkan umur Iblis itu sendiri sangatlah panjang sehingga ia memiliki pengalaman yang luar biasa banyaknya untuk menyesatkan manusia.

Saling Tolong Menolong

Karena memiliki konsep perjuangan atau kepentingan yang sama maka kelompok-kelompok asuhan Iblis juga saling tolong menolong satu sama lain dalam menyukseskan program-program Iblis. Misalnya di saat kelompok-kelompok bersenjata mereka melakukan tindakan biadab dan terorisme berupa penghancuran, pembunuhan, pemerkosaan dan pemusnahan umat manusia secara besar-besaran pada satu wilayah di muka bumi ini, maka kelompok-kelompok media informasi mereka melakukan manipulasi fakta dan penyesatan informasi guna menyembunyikan atau membenarkan kedzaliman itu. Pada saat yang lain ketika kelompok-kelompok pemikiran mereka menganjurkan pembangkangan terhadap hukum-hukum Allah dan mempropagandakan kemaksiatan, maka kelompok-kelompok media informasi mereka juga ikut mendukung dan menyebarluaskannya dalam tipu daya kemasan gaya hidup modern, kebebasan (liberalisme) atau kemanusiaan (humanisme).

Sangat banyak contoh dari kerjasama kelompok-kelompok bathil dalam memperjuangkan misi-misi Iblis. Antara lain serangan terorisme besar-besaran yang dilakukan oleh sekelompok negara pendukung kebebasan yang dipimpin oleh Amerika Serikat (USA). Dengan dalih membebaskan bangsa suatu negara dari sistem kehidupan lama yang buruk yang dituduh mengancam tidak saja bangsa dari negara itu tapi juga bangsa-bangsa dari negara lain menuju kepada sistem kehidupan baru yang mereka sebut demokrasi, kelompok negara-negara yang memiliki riwayat sebagai penjajah itu mengirimkan ratusan ribu tentara haus darahnya ke Somalia, Afghanistan dan Irak. Pada kenyataannya mereka bukannya membawa sistem kehidupan yang lebih baik tapi justru menyebabkan kehancuran, jutaan nyawa manusia hilang dan penderitaan yang berkepanjangan bagi yang masih hidup.

Belakangan ini tidak cukup hanya dengan senjata, Amerika Serikat dan kaki tangannya juga melakukan pengucilan dan teror terhadap bangsa Palestina yang ingin hidup damai dan sejahtera di tanah airnya sendiri, serta memperoleh kembali hak-haknya yang telah dirampas oleh bangsa perampok Zionis Israel.

Di Indonesia sendiri kelompok-kelompok bathil juga tiada henti-hentinya bekerjasama melakukan tipu daya dan penyesatan. Atas nama kebebasan dan hak asasi manusia mereka mengusung jargon-jargon Pluralisme, Sekularisme dan Liberalisme yang tidak lain adalah misi-misi Iblis dalam kemasan modern.

Kelompok bathil ini menolak mentah-mentah adanya kebenaran yang hakiki dalam suatu agama. Mereka menganjurkan Pluralisme yaitu mengakui kebenaran semua agama, kepercayaan atau pun keyakinan. Tidak peduli apakah agama atau keyakinan itu menganjurkan penganutnya untuk berbuat maksiat dan menyembah setan, manusia, pohon, patung atau binatang sekali pun. Bagi mereka apa yang disebut sebagai kebenaran haruslah bersifat relatif, karena itu suatu agama dilarang keras mengklaim bahwa ajarannya adalah yang paling benar bagi penganutnya. Dengan kata lain seseorang dari suatu agama tertentu diharuskan mengakui juga kebenaran ajaran dari agama lain, ini sama artinya dengan memaksa seseorang untuk meragukan kebenaran agamanya sendiri.

Jika agamanya sendiri sudah diragukan kebenarannya lantas untuk apa lagi seseorang harus beragama atau memiliki keyakinan? Tentu saja memang hal inilah yang sebenarnya diinginkan oleh Iblis dan para pengikutnya, yaitu hilangnya kebenaran yang hakiki dari kehidupan manusia disebabkan kebenaran itu telah bercampur aduk dengan kebathilan. Melalui pluralisme itu kaum muslimin yang pada mulanya mempercayai Al-Islam sebagai jalan hidupnya secara perlahan didorong untuk meragukan jalan hidupnya itu. Begitu kaum muslimin mulai ragu dengan Al-Islam sebagai jalan hidupnya, maka mereka akan menganggap enteng ajaran agamanya, melecehkan, menghina dan tidak berusaha membelanya. Pada kondisi yang sudah parah mereka akan meninggalkan Al-Islam itu sebagai agama dan bergabung dengan kelompok pengikut setia Iblis.

Kelompok-kelompok bathil ini juga menganjurkan Sekularisme yaitu pemisahan antara kehidupan bernegara dengan kehidupan beragama. Artinya negara tidak boleh ikut campur dalam urusan agama karena menurut mereka urusan agama adalah hal yang bersifat pribadi dan tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan bernegara. Sungguh, hanya orang-orang yang mengingkari akan adanya hari akhirat saja yang sanggup menerima ide ini. Bagi seorang muslim kepercayaan terhadap adanya hari akhirat merupakan bagian dari keimanannya. Cara ia menjalankan kehidupannya di dunia menjadi faktor penentu selamat atau tidaknya ia di akhirat nanti. Oleh karena itu kehidupan seorang muslim selalu terikat dengan aturan-aturan agamanya dan negara berkewajiban menjamin agar aturan-aturan tersebut dapat dijalankan dengan baik.

Puncaknya kelompok-kelompok bathil ini menganjurkan Liberalisme yaitu kebebasan yang seluas-luasnya dalam semua aspek kehidupan manusia. Mereka menginginkan liberalisasi dalam semua hal termasuk pemikiran, pendidikan, akidah, ajaran-ajaran agama bahkan kitab suci. Kebebasan tidak mengenal batas yang mereka inginkan sesuai sekali dengan misi Iblis agar manusia tersesat sejauh-jauhnya dari jalan yang diridhai Allah karena mengikuti hawa nafsunya tanpa aturan.

Belum lama ini di Jakarta muncul sebuah aksi unjuk rasa yang diberi nama Karnaval Budaya menolak Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU-APP). Karnaval ini sebenarnya lebih tepat disebut Karnaval Bathil dari pada Karnaval Budaya. Alasan pertama, karena ide yang diusung oleh kelompok yang menamakan diri Aliansi Bhinneka Tunggal Ika ini adalah penolakan terhadap suatu rancangan undang-undang yang hendak mengatur tata susila masyarakat khususnya dalam hal pornografi dan pornoaksi yang semakin marak terjadi di Indonesia. Kelompok ini menolak keterlibatan negara dalam mengatur tata susila baik cara berpakaian mau pun cara berprilaku masyarakat. RUU yang hendak disyahkan itu dianggap mengekang kreatifitas seni dan kebebasan masyarakat dalam berekspresi. Anehnya jika kita membaca dengan baik isi RUU tersebut maka sama sekali tidak terdapat unsur-unsur pengekangan terhadap kreatifitas seni dan kebebasan berekspresi, kecuali jika yang dimaksud dengan kreatifitas seni dan kebebasan berekspresi oleh kelompok ini adalah seni pornografi dan ekspresi pornoaksi.

Kelompok ini bahkan tanpa logika yang cerdas menuduh bahwa RUU tersebut mengandung unsur ajaran agama tertentu terutama Islam padahal RUU-APP itu sama sekali tidak memasukkan kaidah-kaidah hukum Islam sebagai acuan. Kaidah hukum (undang-undang) Islam yang bersumber dari Al-Qur’aan dan Sunnah jika benar-benar diterapkan akan jauh lebih baik dan sempurna dari pada undang-undang buatan manusia semacam RUU-APP itu. Namun demikian walaupun RUU tersebut masih jauh dari sempurna, ia tetap diperlukan setidak-tidaknya untuk saat ini guna memperlambat gerakan misi penghancuran tata nilai dalam masyarakat dan penjerumusan masyarakat ke jurang kebathilan. Oleh karena itu semua pihak yang menginginkan terciptanya masyarakat yang tertib, aman, berakhlak baik, bermartabat dan mempunyai masa depan sudah seharusnya mendukung lahirnya RUU-APP.

Alasan kedua, karena dalam aksinya kelompok ini melakukan perbuatan mungkar seperti mempertontonkan aurat secara vulgar dengan berpakaian minim bahkan memperlihatkan (maaf) payudara, sebagaimana yang dilaporkan sebuah situs berita nasional Indonesia.

Pamer payudara ini dilakukan sekelompok orang yang berkumpul di mobil tronton, tempat panggung didirikan di pojok kawasan Bundaran HI, Jakarta, Sabtu (22/4/2006). Mereka tampak mengenakan pakaian serba seksi. Tiba-tiba salah seorang dari mereka mengangkat pakaiannya ke atas dan memamerkan payudaranya. Pemamer payudara ini tampak melakukannya dengan sukacita. Teman-teman satu kelompoknya juga tampak tertawa-tawa. Dilihat dari tampangnya, tampaknya mereka bukan dari kalangan perempuan, tapi dari kalangan waria. Banyak tokoh dan artis yang mengikuti acara ini. Antara lain, istri Gus Dur; Sinta Nuriyah, pedangdut goyang ngebor Inul, pemain sinetron Rieke Dyah Pitaloka, Becky Tumewe, Jajang C Noer, Lia Waroka, Olga Lidya, Ratna Sarumpaet, dan lain-lain. (Indra Shalihin, Detikcom 22/4/2006).

Aliansi Bhinneka Tunggal Ika ini seperti sekelompok orang yang ketakutan dan panik dengan kemunculan suatu aturan yang akan mengekang kebebasan mereka untuk berbuat maksiat hingga kemudian mereka menghalalkan segala cara untuk mencegah RUU tersebut disyahkan menjadi undang-undang.

Kita harus menyadari bahwa tidak hanya orang-orang yang memperjuangkan kebenaran saja yang berkelompok dan saling tolong menolong satu sama lain tapi orang-orang yang memperjuangkan kebathilan juga melakukan hal yang sama. Allah Ta’ala telah memberi petunjuk tentang hal ini dalam firman-Nya:

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.” (Terjemahan QS. At-Taubah ayat: 67).


Yang dimaksud dengan fasik adalah ingkar terhadap perintah-perintah Allah. Karena Iblis merupakan pelopor kefasikan maka para pengikutnya juga memiliki karakteristik seperti itu. Selain itu mereka juga mendustakan adanya hari berbangkit atau perhitungan di akhirat nanti.

Kaum muslimin sebagai komunitas ummat yang telah dengan tegas menyatakan diri sebagai pihak yang berseberangan dengan kelompok para pengikut Iblis haruslah membentengi diri dengan keimanan yang kokoh dalam menghadapi tipu daya Iblis dan para pengikutnya. Keimanan tersebut harus selalu diperkuat dengan ilmu-ilmu tentang Islam yang diamalkan secara menyeluruh. Kaum muslimin harus selalu berupaya untuk mencapai tingkatan hamba Allah yang Mukhlis. Kedudukan tersebut merupakan tingkatan puncak dari 4 tingkat kedudukan hamba-hamba Allah yakni; Muslim, Mukmin, Muhsin dan Mukhlis. Pada tingkatan ini Iblis dan para pengikutnya tidak akan sanggup melakukan tipu dayanya sebagaimana yang diakui sendiri oleh Iblis.

Allah Ta’ala berfirman:

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”. Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya)”.” (Terjemahan QS. Al-Hijr ayat: 39-41).


Sekarang tinggal kita memilih apakah kita ingin termasuk ke dalam kelompok yang memperjuangkan kemungkaran ataukah kita ingin bergabung ke dalam kelompok yang memperjuangkan kebenaran sebagaimana firman Allah:

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Terjemahan QS. At-Taubah ayat: 71).


Jika kelompok yang memperjuangkan kebathilan saja sanggup saling tolong-menolong dan mengerahkan seluruh daya upayanya untuk memperjuangkan misi Iblis lantas mengapa kita tidak sanggup saling tolong-menolong dalam memperjuangkan tegaknya syari’at Allah (hukum-hukum Islam)?

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (Terjemahan QS. At-Taubah ayat: 119).


Wallahu a’lam bis shawab.