oleh WebMaster
Bom meledak di Jimbaran & Kuta Bali tanggal 1 Oktober 2005. Data terakhir yang dikeluarkan polisi hari ini menyebutkan 22 orang meninggal dalam peristiwa itu, 17 jenazah sudah berhasil di identifikasi sedangkan sisanya belum teridentifikasi. Dari 17 orang yang tewas, 13 orang di antaranya adalah warga negara Indonesia.
Perdana menteri Australia John Howard malam itu juga langsung menuduh kelompok Jama'ah Islamiyah (JI) sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas aksi peledakan bom tersebut, meskipun belum ada satu bukti otentik pun yang bisa digunakan untuk mendukung tuduhannya. Tentunya tuduhan Howard ini menjadi tanda tanya besar bagi kita, kenapa sedemikian cepat John Howard menarik kesimpulan dan membuat pernyataan? ada apa di balik semua ini?
Banyak pihak yang kemudian menghubung-hubungkan peristiwa peledakan bom di Bali tanggal 1 Oktober 2005 (Bom Bali II) dengan peristiwa peledakan bom di Bali tiga tahun sebelumnya (Bom Bali I) yang juga terjadi di bulan Oktober. Para pelaku bom Bali I akhirnya disangkakan sebagai anggota kelompok Jama'ah Islamiyah, meskipun Amrozi, Muklas dan kawan-kawan berkali-kali mengatakan bahwa mereka tidak kenal Jama'ah Islamiyah dan baru mengetahui istilah itu dari koran-koran & media massa lainnya.
Benarkah Jama'ah Islamiyah (JI) --sebuah istilah yang diciptakan oleh Singapura, Malaysia, Australia dan USA-- yang melakukan perbuatan keji tersebut? Umat Islam seharusnya sadar bahwa istilah Jama'ah Islamiyah tidak lain adalah tuduhan langsung kepada kaum muslimin, karena Jama'ah Islamiyah adalah istilah yang biasa kita gunakan dalam pengajian di masjid-masjid. Pengertian Jama'ah Islamiyah asalnya identik dengan sekelompok orang Islam yang berkumpul bersama-sama untuk mempelajari agamanya dan melaksanakan syari'at agamanya. Jadi, jika anda seorang muslim, berhati-hatilah! jangan ikut-ikutan latah menuduh pelaku berbagai kegiatan teroris di Indonesia dengan istilah ini, karena Jama'ah Islamiyah = umat Islam = kita. Jika kita ikut-ikutan menuduh sembarangan seperti John Howard, maka berarti kita mengarahkan telunjuk kepada diri kita sendiri, sadarilah hal ini.
Kembali ke peristiwa bom Bali II, dalam waktu kurang dari 1 minggu polisi sudah berhasil menetapkan pelakunya, termasuk ciri-ciri para pelaku. Sementara polisi Inggris sampai sekarang masih belum bisa mengidentifikasi dengan jelas siapa pelaku peledakan bom di London. Saya tidak yakin kemampuan dan keahlian kepolisian Inggris berada di bawah kepolisian Indonesia, justru sebaliknya, saya sangat yakin kepolisian Inggris lebih canggih & maju dari pada kepolisian Indonesia. Tapi mengapa kepolisian Indonesia yg "dibantu" kepolisian Australia mampu mengungkap peristiwa ini secepat itu? hal ini hanya mungkin terjadi jika mereka mendapatkan data-data yang sudah dipersiapkan sebelumnya oleh sebuah sumber yang bekerja dengan rapi dan canggih, terutama data-data yang harus dipublikasikan.
Lihat saja, seperti halnya bom di Kedutaan Besar Australia Jakarta, kali ini juga terdapat rekaman video yang menunjukkan dengan sangat jelas pelaku pengeboman. Rekaman tersebut diakui sebagai rekaman dari seorang amatir yang juga adalah pengunjung restoran tempat salah satu dari 3 bom meledak. Tapi tidak ada keterangan apakah orang tersebut selamat atau tidak dari ledakan. Apakah cuma suatu kebetulan saja orang tersebut berhasil merekam pelaku pengeboman? ataukah memang ia ditugaskan untuk merekam peristiwa itu? kalau begitu siapa orang ini?
Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) pada tanggal 29 Sya'ban 1426 H (3 Oktober 2005) mengeluarkan pernyataan sikap yg dalam salah satu butirnya menyatakan: Keterlibatan polisi federal Australia sejak awal dalam investigasi di TKP, dan kemiripan publikasi audio visual terhadap modus peristiwa Bom Bali II dengan Bom Kedutaan Australia di Jakarta sebelumnya, menunjukkan fakta kesekian kalinya betapa kekhawatiran Jenderal Ryamizard Ryacudu terhadap penyusupan intelijen asing bukan isapan jempol belaka. MMI juga menuding Intelijen Yahudi (Jewish Intelligence) sebagai pihak yg ikut bermain dalam peledakan bom tersebut. Tiga tahun sebelumnya, Joe Vials -seorang penyelidik independen berkewarganegaraan Australia- menyampaikan bukti-bukti ilmiah keterlibatan agen-agen Mossad (Intelijen Israel) dalam peristiwa Bom Bali I.
Informasi terakhir menyebutkan bahwa sebenarnya terdapat 6 bom pada peristiwa bom Bali II, tapi hanya 3 dari bom tersebut yang meledak. 3 bom lagi yang tidak berhasil meledak itu diyakini gagal meledak karena ada petugas telekomunikasi yang segera mematikan jaringan telekomunikasi telpon seluler (BTS) di wilayah Bali sesaat setelah 3 bom meledak. Michael Sheridan dan Jason Childs sehari setelah ledakan di Bali menulis dalam London Times:
Prisonplanet Comment: The bombs were supposedly detonated by suicide bombers and yet three unexploded bombs were found after the mobile phone networks were shut down, suggesting that all the bombs were designed to be remotely detonated. Detonation by remote mobile phones is a classic Mossad modus operandi.
[Komentar Prisonplanet: Bom-bom tersebut diperkirakan diledakkan oleh para pengebom bunuh diri, tetapi masih ditemukan 3 bom lain yang tidak meledak setelah jaringan telekomunikasi ponsel dimatikan, memberi kesan bahwa bom-bom tersebut sebenarnya dirancang untuk diledakkan dari jarak jauh. Peledakan bom dengan menggunakan sinyal ponsel adalah modus operandi klasik yang biasa dipakai Mossad].
Oleh karena itu, muncul pertanyaan, apakah betul bom Bali II adalah bom bunuh diri? jika benar bom bunuh diri, mengapa ada 3 bom lagi yang diletakkan pada tempat berbeda tanpa dibawa oleh pelaku bom bunuh diri lainnya? lalu apakah 3 pelaku yang membawa masing-masing 1 bom meledakkan sendiri bom yang dibawanya ataukah seseorang di tempat lain yang memegang triggernya? Bagaimanapun polisi terkesan menutup-nutupi fakta ini, mereka sama sekali mengabaikan fakta tentang adanya 3 bom lain yang tidak meledak tersebut.
Ada beberapa hal penting yang harus kita cermati dalam peristiwa bom Bali II:
1. Waktunya berdekatan dengan peristiwa kenaikan harga BBM secara besar-besaran yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia.
Pengumuman kenaikan harga BBM segera diikuti dengan kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok dan demonstrasi besar-besaran di hampir semua daerah baik oleh mahasiswa maupun masyarakat. Revrisond Baswir -salah seorang pengamat ekonomi senior Indonesia- secara eksplisit mensinyalir bahwa salah satu tujuan dari kenaikan harga BBM adalah untuk kepentingan para pengusaha asing yang ingin masuk ke industri hilir minyak & gas Indonesia yang selama ini dimonopoli oleh Pertamina. 230 juta lebih rakyat Indonesia adalah pasar yang sangat menggiurkan bagi para investor. Mereka sudah tidak sabar lagi untuk ikut mengeruk keuntungan milyaran rupiah dengan membuka SPBU yang selama ini selalu dimonopoli oleh Pertamina.
"Perlu diketahui, sehubungan dengan pemberian izin kepada para pengusaha swasta untuk memasuki sektor hilir migas, antara lain membuka SPBU, saat ini sudah terdapat sekitar 107 investor asing dan domestik yang memiliki izin prinsip untuk memulai usaha mereka. Nah, sebagaimana dikemukakan oleh para pejabat pemerintah, selama harga BBM masih bersubsidi, selama itu para calon investor migas ini tidak dapat merealisasikan rencana investasi mereka." [Revrisond Baswir, Republika 26 September 2005].
Demonstrasi-demonstrasi yang kemudian terjadi sebagai respon atas keputusan pemerintah menaikkan harga BBM cukup menggoncangkan kredibilitas Susilo Bambang Yudoyono (SBY) sehingga dalam pidatonya ia menyatakan sangat terpukul dan sedih dengan adanya penolakan atau demontrasi atas kebijakan pemerintah. Jika demontrasi-demonstrasi seperti itu terus berlanjut dan kemudian ditunggangi secara politik oleh partai-partai yang beroposisi terhadap pemerintah SBY, tidak mustahil jika pemerintahan SBY akan berakhir sebelum waktunya. Dan jika pemerintahan SBY berakhir karena isu kenaikan BBM ini, maka peluang di depan mata bagi para kapitalis asing yang ingin bermain di industri hilir minyak & gas, boleh jadi akan ditutup kembali oleh pemerintahan berikutnya yang dibentuk menggantikan pemerintahan SBY.
Jika kita menggunakan istilah (terms) yang biasa digunakan intelijen, maka setiap peristiwa teror akan selalu menguntungkan sebuah kelompok dan kelompok itu cenderung ikut berkonstribusi dalam teror itu baik secara langsung maupun tidak langsung. Sulit untuk disangkal bahwa peristiwa bom Bali II telah mengalihkan isu kenaikan BBM kepada isu teror bom. Jadi muncul pertanyaan: Siapa pihak yang paling diuntungkan dengan peristiwa bom Bali? umat Islam ataukah kapitalis asing? yang jelas umat Islam sama sekali tidak pernah diuntungkan dengan berbagai peristiwa teror yang terjadi. Jadi seharusnya jauh-jauhkan telunjuk dari umat Islam karena mereka justru adalah korban dari fitnah-fitnah yang keji.
2. Skenario intelijen asing yang memanfaatkan pemuda-pemuda muslim yang memiliki ghirah jihad menggebu-gebu tapi tipis dalam pemahaman manhaj Islam & sejarah perjuangan Nabi Muhammad Saw. (Sirah Nabawiyah).
Mengacu pada kesaksian Amrozi, Mukhlas, dan para pelaku bom lainnya di Indonesia (yang ditetapkan pihak polisi) selama persidangan kasus-kasus bom Bali I, bom di Hotel JW Marriot dan bom di Kedubes Australia, dan pernyataan-pernyataan yang mereka buat dalam media-media massa, terlihat bahwa pemahaman mereka terhadap ilmu Fiqih dan sejarah perjuangan Nabi Muhammad Saw. masih sangat kurang. Semangat jihad yang berkobar-kobar dalam diri mereka tersebut dengan mudah dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin membuat citra Islam sebagai teroris dalam skenario besar Amerika "Perang terhadap Terorisme".
Umar Farukh yang disinyalir sebagai pendukung utama atau orang yang mendanai berbagai kegiatan yang dilakukan oleh Amrozi dkk. sampai saat ini tidak jelas dimana rimbanya. Kabar terakhir menyebutkan bahwa Farukh dibawa ke USA setelah berhasil ditangkap kepolisian Indonesia di daerah Bogor. Mengapa orang ini langsung dibawa ke Amerika tanpa melalui pemeriksaan dan penahanan oleh kepolisian Indonesia? bahkan Amerika juga menolak "meminjamkan" Farukh untuk menjadi saksi dalam persidangan Amrozi dkk.
Siapa sebenarnya Farukh? bukan tidak mungkin jika sebenarnya Farukh adalah intelijen asing yang ditugaskan untuk merekrut pemuda-pemuda muslim yang memiliki semangat jihad besar tapi minim dalam hal pengetahuan agama, guna menjalankan aksi-aksi teror atas nama Islam. Kita sangat sedih dan menyayangkan sekali jika benar Amrozi dkk. adalah korban dari skenario intelijen asing, niat mereka yang mulia untuk menegakkan kalimah Allah pada akhirnya telah dipelintir oleh musuh-musuh Islam untuk memojokkan dan memfitnah umat Islam.
Oleh karena itu sangat penting bagi setiap muslim membekali dirinya dengan pengetahuan tentang manhaj Islam secara menyeluruh, yang di dalamnya terdapat berbagai hukum-hukum fiqih, sehingga kita tidak akan dengan mudah terperangkap dalam perbuatan yang bertentangan dengan Al-Qur'aan dan Hadits.
Hukum-hukum atau aturan-aturan tentang shalat, puasa, zakat, dan haji yang selama ini sudah kita pahami setelah syahadatain, baru merupakan pondasi dari Al-Islam. Selain itu masih terdapat banyak hukum-hukum fiqih yang harus kita pelajari dan pahami. Namun semua itu tidak cukup hanya sebatas dipelajari dan dipahami saja tapi juga harus diamalkan.
Salah satu ciri-ciri pengikut Rasulullah Saw. itu adalah selalu berusaha menjadi lebih baik di masa yg akan datang. Karena itu seseorang muslim tidak akan cukup puas dengan predikat muslim saja, mereka akan selalu berupaya memperoleh predikat mukmin dan mukhlis.
Jika kita selama ini sudah cukup rajin melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan tapi shalat masih sering lalai dan ditinggalkan, maka berarti kita belum sempurna sebagai seorang muslim apalagi mukmin. Jika kita sudah rajin shalat dan puasa tapi berzakat tidak mau, berarti kita juga masih belum sempurna sebagai seorang muslim dan mukmin.
Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia." [Qur'aan surah Al-Anfaal ayat 2-4].
Be ware to Jewish Intelligences!
Wallahu a'lam bis shawab