Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Shakhr ra., ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia memandang kepada hati kalian." [HR. Muslim] *** "Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Sertailah (tutuplah) kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan tadi akan menghapus kejelekan, dan gaulilah manusia dengan akhlak yang baik." [HR. Tirmidzi] *** Dari Abu Sa'id dan Abu Hurairah ra., dari Nabi Saw., ia berkata: "Seorang muslim yang tertimpa kecelakaan, kemelaratan, kegundahan, kesedihan, kesakitan maupun kedukacitaan, sampai yang tertusuk duri pun, niscaya Allah akan mengampuni dosanya sesuai apa yang menimpanya." [HR. Bukhari dan Muslim] *** Dari Anas ra., ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: "Apabila Allah menghendaki hamba-Nya menjadi orang yang baik, maka Dia menyegerakan siksaannya di dunia, dan apabila Allah menghendaki hamba-Nya menjadi orang jahat, maka Dia menangguhkan balasan dosanya sehingga Allah akan menuntutnya pada hari Kiamat." [HR. Bukhari dan Muslim]

Thursday, June 23, 2005

TEKA-TEKI BERFIKIR LATERAL

oleh Webmaster


Anda ingin menguji kemampuan berfikir lateral anda? Jika ya, cobalah menjawab 5 buah teka-teki berikut ini. Seluruh jawaban teka-teki akan diberikan pada bagian akhir pertanyaan.

Teka-teki ke-1:

Ada seorang pria yang tinggal di lantai paling atas sebuah apartemen yang sangat tinggi. Setiap hari ia menggunakan lift menuju ke lantai dasar, meninggalkan apartemen itu lalu pergi bekerja. Sekembalinya dari tempat bekerja, ia hanya bisa naik ke separuh perjalanan saja, sisanya ia harus berjalan kaki menggunakan tangga, kecuali ketika hari sedang hujan! Mengapa? (Ini mungkin adalah teka-teki klasik yang paling terkenal dari sekian banyak teka-teki berpikir lateral yang ada. Meski terdapat banyak kemungkinan jawaban yang sesuai dengan kondisi-kondisi di atas, namun hanya ada sebuah jawaban "resmi" yang benar-benar memuaskan).

Teka-teki ke-2:

Seorang pria keturunan Afrika (berkulit hitam) menggunakan pakaian berwarna serba hitam, celana hitam, baju hitam, mantel hitam, topi hitam, sepatu hitam, kaos kaki hitam, sarung tangan hitam, dan kacamata hitam. Ia kemudian berjalan di sebuah lorong yang berwarna hitam. Seluruh lampu di lorong itu padam total. Tiba-tiba, sebuah kendaraan berwarna hitam dengan lampu yang juga padam melaju dengan cepat memasuki lorong tersebut. Namun, tepat di depan orang Afrika tersebut kendaraan itu berhenti hingga orang Afrika selamat dari kecelakaan. Bagaimana mungkin pengendara kendaraan itu bisa melihat pria Afrika itu?

Teka-teki ke-3:

Mengapa lubang penutup riol jalan tidak berbentuk persegi, melainkan bulat? (Sebenarnya ini lebih merupakan pertanyaan logika saja ketimbang lateral, namun pertanyaan ini adalah teka-teki menarik yang bisa dipecahkan menggunakan teknik berpikir lateral. Sebuah perusahaan perangkat lunak terkenal diketahui menggunakannya sebagai pertanyaan dalam wawancara dengan calon karyawan mereka).

Teka-teki ke-4:

Seorang pria pergi ke sebuah pesta dan minum beberapa gelas punch (semacam minuman bercampur dengan es batu kecil-kecil). Tak lama kemudian ia pergi meninggalkan pesta. Semua orang yang berada dalam pesta itu yang juga ikut minum punch, namun beberapa jam kemudian mereka meninggal karena keracunan. Tidak satu pun yang selamat kecuali pria pertama tadi. Mengapa pria tersebut tidak ikut meninggal?

Teka-teki ke-5:

Seorang pria masuk ke sebuah bar dan meminta segelas air putih pada bartender. Segera saja bartender itu mengeluarkan senapan dan menondongkannya pada pria itu. Beberapa saat kemudian pria itu malah mengucapkan "terima kasih" lalu pergi meninggalkan bar. Kenapa pria itu justru berterima kasih kepada bartender? (Teka-teki ini dianggap sebagai teka-teki terbaik dalam kategorinya. Jawabannya benar-benar sederhana, mengejutkan dan memuaskan. Kebanyakan orang berusaha keras untuk memecahkan teka-teki ini sebelum mereka menyukai jawaban memuaskan yang diberikan).



Setelah anda menemukan jawabannya atau benar-benar menyerah karena tidak menemukan jawabannya, silahkan periksa jawaban resminya di bawah ini.



Jawaban teka-teki ke-1:

Pria itu sangat pendek bahkan bertubuh kerdil sehingga hanya bisa menjangkau tombol nomor lantai yang terdapat pada lift separuh perjalanan ke atas gedung apartemennya. Tetapi, pada saat hari hujan ia selalu membawa payung yang kemudian bisa ia gunakan untuk menekan tombol nomor lantai yang paling atas.

Jawaban teka-teki ke-2:

Karena peristiwa itu terjadi siang hari.

Jawaban teka-teki ke-3:

Tutup riol yang berbentuk persegi dapat tergelincir jatuh ke dalam riol secara diagonal. Sedangkan tutup riol yang berbentuk bulat tidak akan bisa tergelincir jatuh ke dalam lubang dalam posisi apapun. Oleh karena itu demi keselamatan dan kepraktisan, maka semua tutup riol dibuat berbentuk bulat.

Jawaban teka-teki ke-4:

Di dalam minuman punch itu terdapat racun yang dibekukan dalam bongkahan-bongkahan es batu. Ketika pria itu meminum punch, racun tersebut masih membeku dengan sempurna dalam es batu. Namun, lama kelamaan es tersebut meleleh dan membiarkan racun yang berada di dalamnya bercampur dan larut ke dalam minuman punch, hingga meracuni seluruh tamu yang ikut minum setelah pria itu pergi.

Jawaban teka-teki ke-5:

Pria itu sedang mengalami kecegukan (tersedak). Bartender mengetahui hal ini saat pria itu mengatakan permintaannya. Untuk menolong pria itu, bartender segera mengeluarkan senapan dengan tujuan agar pria itu terkejut dan hilang kecegukannya. Ternyata apa yang dilakukannya berhasil menyembuhkan kecegukan pria itu. Maka pria itu langsung berterima kasih dan pergi dari bar karena tidak memerlukan lagi air putih.

Seluruh teka-teki di atas terlihat sederhana saja namun sulit untuk dijawab. Ini adalah contoh sempurna atas beberapa situasi yang kelihatannya aneh dan tak masuk akal tapi ternyata mempunyai penjelasan yang jelas dan sederhana. Anehnya teka-teki klasik ini tampaknya berlaku pada budaya dan bahasa yang berbeda-beda.

Sumber: Unknown


KAIZEN

oleh Webmaster


Most likely you endeavor everyday to reliably achieve the purpose of your work. You do not work without thinking. In your work you probably more than once have said, "We should do it this way" or "Couldn’t we do it that way?"

Kaizen (continuous improvement) activities occur when these ideas are not just set aside, but rather everyone applies his or her own ingenuity to the work to improve it in a tangible way, whether that be making it faster, easier, more reliable or safer. The result of kaizen are an improved workplace, which leads to better company performance. Accordingly making a kaizen suggestion also becomes a way of actively participating in management.

The Definition of Kaizen

Definition 1: Selection of measure, change of methods

Kaizen is the selection of measures and change of methods for achieving one’s aims in a better and more efficient way. Work is made up of "aims" and "measures/methods". Kaizen applies to the measures and methods. Kaizen in one’s own work always involves the following questions:


  • How far does work go, and how far does kaizen go?
  • Where is the boundary between work and kaizen?

These questions stem from the concept that work and kaizen are separate things.
"Work is done to achieve the aims of business. Changing how one works in order to better and more efficiently achieve the aims of the work is very important, that is kaizen."

Definition 2: Generally not big changes, but small changes

Kaizen does not mean making big changes, but rather small changes to the majority of things. We do not necessarily have to make big changes in the way we work. Kaizen starts with taking something you know how to do at your work to a point you can handle and making change a little at a time. So anyone can do kaizen. Kaizen is fine as long as one is doing what he or she can within the range of his or her own abilities.

What Can be Considered as Kaizen?

Kaizen includes all departments of the company. Also, the following kinds of contents are generally kaizen.

1. General Suggestions


  • Quality improvement
  • Reducing lead times
  • Cutting costs
  • Reducing work processes
  • Economizing on material costs and energy

2. Safety Suggestions (improvement of safety)

Many of us have the experience of being frightened or startled by a dangerous situation in the work place. These frightening and alarming experiences are an important focal point for kaizen.

3. Technological Suggestions (improvement of technology)

4. Environmental Suggestions (improvement of environment)


  • Energy saving, resource management, recycling
  • Pollution (air, water, soil)
  • Garbage reduction
  • Global warming, noise, odors, vibrations
  • Other, contributing to improving awareness of the environment

5. Service Suggestions (improvement of sales and customer service)


  • Reducing the customer’s waiting time
  • Improving display shelves
  • Short repair period
  • Improving the level of satisfaction the next process

6. Others

Sales promotion improvement, development of attractive products, and so on.

Kaizen Steps

Kaizen activities are classified broadly in three stages:


  1. Grasping the problem
  2. Coming up with a suggestion for sollution (putting out ideas)
  3. Solution of the problem

Further, "grasping the problem" is divided into focusing and study, "putting out ideas" is divided into conceptualizing, organizing and suggesting measures, and "solution of the problem" is divided into implementation, follow-through and handling in kaizen forms.



Figure-1. Kaizen Steps


Summarized from: "Kaizen (Continuous Improvement)", Kaizen/Suggestion Training Text, QS/Quality Assurance, Seiko Epson Corp, (2001).

Tuesday, June 21, 2005

MAKAN SIANG BERSAMA SEORANG ATHEIS

oleh Webmaster



Seorang laki-laki yang duduk di sebelah saya berkata, "Saya tidak percaya keberadaan Tuhan, sesungguhnya agama telah menipu manusia, sejak kecil kita dipaksa oleh orangtua dan lingkungan untuk takut kepada sesuatu yang disebut ‘Tuhan’, neraka ataupun surga." Perkataan orang ini membuat saya berhenti menyantap makanan sesaat lamanya, menu makan siang yang memang dari awal tidak sesuai dengan selera saya ini menjadi semakin terasa hambar di lidah. Saya sebetulnya tidak tertarik berbicara dengan orang ini apalagi menanggapi pembicaraannya, tapi sialnya hari itu saya kebetulan duduk di sebelahnya, tepatnya dia yang mendekat duduk di sebelah saya. Padahal saya jarang sekali makan siang di kantin perusahaan. Sesaat tadi saya sedang memikirkan kenapa saya masih duduk di kantin ini dan makan hidangan yang tidak saya suka, padahal 100 meter dari gedung tempat saya makan terdapat beberapa rumah makan masakan Padang yang menyediakan menu-menu favorit saya, tempat di mana saya biasa makan. Huh!

"Kalau menurut Islam bagaimana Pak? Apa buktinya Tuhan itu ada?" Orang itu bertanya sambil mengangsur duduknya lebih dekat kepada saya. Saya meraih teh botol dan minum beberapa teguk cairan yang mengandung zat pengawet itu sambil berfikir apa saya cukup kompeten menjawab pertanyaan orang itu. Kenapa dia bertanya hal itu kepada saya? Saya tidak terlalu ahli dalam hal agama, saya termasuk orang yang belajar agama seadanya saja, setidak-tidaknya itu menurut saya. Tiba-tiba saya berfikir apakah pertanyaan itu merupakan sebuah pertanyaan biasa ataukah sebuah pertanyaan ujian. Dari dulu saya punya kebiasaan negatif untuk selalu curiga pada setiap pertanyaan yang diajukan kepada saya, saya bukan tipe orang yang mudah percaya kan? Haks!

Setelah beberapa saat, akhirnya saya menjawab juga pertanyaan orang itu, "Saya rasa anda sudah mengetahui bahwasanya Islam mengakui tentang keberadaan Tuhan, jadi pertanyaan pertama tidak perlu saya jawab. Sedangkan soal bukti keberadaan Tuhan lebih baik kita mendiskusikannya dalam sudut pandang rasio atau logika. Karena anda bukan seorang penganut agama Islam maka tidak akan efektif jika saya mengemukakan ayat-ayat Al-Qur’aan atau isi kitab suci orang Islam sebagai dalil tentang keberadaan Tuhan, namun demikian referensi saya tidak akan jauh-jauh dari Al-Qur’aan."

"Baiklah...terus bagaimana?" kata orang itu sambil lebih mendekatkan badannya kepada saya, mungkin karena antusias, padahal saya sangat tidak suka berdekatan dengan laki-laki, lain soal kalau orang itu wanita. Heee...saya masih normal kan? Astaghfirullah!

"Hmm...anda tidak mempercayai adanya Tuhan ya, jika begitu, menurut anda siapakah yang menciptakan diri anda ini?" Tanya saya. "Yaa...saya tercipta demikian saja secara alamiah melalui proses percampuran sel-sel atau benih antara kedua orang tua saya." Jawabnya. "Kenapa bisa terjadi begitu? Bagaimana mungkin sel-sel kedua orangtua anda itu bisa berubah wujud seperti anda sekarang ini?". Lanjut saya. "Yaaa...eee..memang begitu, sudah alamiah seperti itu dan memang begitulah ketetapan atau sifatnya." Jawab laki-laki itu. "Siapa yang membuat ketetapan atau sifat-sifat sel seperti itu? Siapa yang menetapkan kejadiannya harus seperti itu?" Pertanyaan saya ini tulus tidak ada maksud hendak menguji, hanya sekedar mengumpulkan informasi dan melihat pola pikir orang itu. "Ya sel-sel itu sendiri, mereka memiliki kecenderungan dan sifat seperti itu." Jawabnya. "Oow...kalau begitu apa boleh saya menyimpulkan bahwa menurut anda sel-sel itu bisa berfikir dan menentukan sifat-sifatnya sendiri?" Saya mencoba menarik kesimpulan awal. "Ya boleh jadi seperti itu. Setiap benda sudah memiliki ketetapannya masing-masing termasuk hendak menjadi apa dia. Umpamanya kertas, benda itu awalnya berasal dari pohon kayu tapi sejak awal ketetapannya memang harus menjadi kertas, maka jadilah pohon itu kertas pada waktu yang telah ditentukan."

Laki-laki itu seperti sedang menemukan jawaban yang pas baginya, dia terlihat puas, sementara saya sudah bisa menyimpulkan bahwasanya orang itu penganut paham Materialisme, sebuah paham kebendaan yang hakikatnya adalah inti dari keyakinan Atheis. "Lalu bagaimana dengan peran manusia dalam hal ini? Bukankah manusia yang mengubah pohon itu melalui serangkaian proses hingga bisa menjadi kertas?" Saya kembali bertanya sambil melihat jam, masih 7 menit lagi sebelum jam istirahat makan siang habis. "Ya manusia hanya sebagai faktor pelengkap saja, dengan atau tanpa peran manusia, pohon itu tetap saja akan berubah menjadi kertas. Pulpen, gelas, telepon, meja, mobil, dan lain-lain semuanya punya prinsip yang sama dengan kejadian kertas itu." Sambung laki-laki itu. "Hmm...cara berfikir anda ‘menakjubkan’ juga yaa..tanpa ada faktor lain sesuatu bisa berubah menjadi sesuatu lainnya." jawab saya sambil mengusap janggut. Saya memang suka mengusap janggut jika sedang berfikir, dalam satu riwayat pernah saya baca, bahwa Nabi Saw. juga senang berbuat seperti itu, jadi..saya hanya mencontoh saja kan? whew!

"Ngomong-ngomong anda lahir tahun berapa?" Tanya saya, tentunya setelah berhenti mengusap janggut. "Saya lahir tahun 1980." Jawabnya. "Hmm...masih cukup muda juga yaa..hmm..baiklah, tadi menurut anda semua benda sudah memiliki ketetapannya masing-masing kan? termasuk hendak menjadi apa mereka, benar begitu?" Tanya saya memastikan. "Ya benar!" Jawabnya pasti. "Oh ya, kalau begitu sebelum tahun 1980 anda berada di mana? kenapa anda baru muncul pada tahun itu? Anda ingat tidak kenapa anda muncul pada tahun itu? Anda jugakah yang memutuskan untuk menjadi diri anda seperti sekarang ini?" Orang itu terdiam sejenak, sepertinya sedang berfikir, sementara saya kembali melihat jam, masih tinggal 5 menit lagi sebelum waktu istirahat siang berakhir. Saya bukannya tipe pegawai yang disiplin dan senang masuk kerja tepat pada waktu, apalagi setelah waktu istirahat siang. Saya cuma sudah tidak sabar untuk segera kembali ke ruang kerja dan membalas email sahabat lama yang sempat saya baca sebelum pergi makan siang. Itu juga sebabnya kenapa saya tidak makan siang di luar hari ini, karena saya ingin cepat-cepat selesai makan siang dan membalas emailnya. Saya sebetulnya tidak tega mengajukan pertanyaan seperti ini, karena jawabannya pasti sulit. Sekali lagi, saya tidak bermaksud menguji, saya hanya ingin agar seseorang menemukan sendiri jawaban untuk pertanyaannya, saya rasa itu lebih efektif begitu daripada saya mencekokinya dengan dalil-dalil yang belum tentu dipahaminya.

"Eee...saya tidak tahu di mana saya berada sebelum tahun 1980 itu. Mungkin saja saya sebelumnya adalah orang lain bahkan mungkin seekor binatang atau makhluk lain." Saya agak terkejut mendengar jawabannya, tapi dengan cepat menyadari bahwa orang ini sedang berbicara tentang Reinkarnasi, sebuah keyakinan lain yang pada dasarnya bukan bagian dari paham Materialisme, setahu saya Reinkarnasi merupakan bagian dari paham Kong Fu Cu dan Budhis. "Maksud anda Reinkarnasi? Anda adalah Reinkarnasi dari manusia, binatang atau makhluk lain sebelumnya, begitu?" Tanya saya ingin tahu. "Iya, begitulah.." Jawabnya ragu. "Kalau begitu anda ini sebelumnya Reinkarnasi dari siapa atau apa? Kenapa anda ber-Reinkarnasi jadi seperti sekarang ini?" Saya kembali bertanya, dan sepertinya dari tadi justru saya yang lebih banyak bertanya daripada orang itu, padahal sejak pertama kali justru dia yang ingin mendapatkan sebuah jawaban. "Eee...saya tidak tahu..saya tidak bisa menjawabnya tapi semua itu memang sudah ditetapkan seperti itu." Jawab laki-laki itu tidak bersemangat. "Siapa? Siapa yang menetapkan anda harus muncul atau apa yang anda sebut ber-Reinkarnasi jadi ini atau itu?" Tanya saya lagi. "Saya tidak tahu." Jawabnya singkat. "Apakah tidak mungkin ada sesuatu yang lebih berkuasa daripada diri anda yang menetapkan peristiwa itu? Yang bisa memilih waktu kapan anda harus lahir atau muncul ke dunia ini? Yang menentukan anda lahir di keluarga siapa, hidup di mana, dan akan menjadi apa?" Lagi-lagi saya bertanya. Sepertinya saya suka bertanya, pantas saja waktu kuliah dulu dosen-dosen lebih senang jika saya tidak masuk ke kelas, ach! bukan begitu...saya sendiri yang memang jarang masuk kelas, hehehe...

Tiba-tiba saya tertarik untuk memperhatikan laki-laki itu dengan serius. Dia berusaha mengalihkan pandangannya dari saya dan menatap bekas makanan di hadapannya, kelihatannya sedang mencari jawaban-jawaban bagi pertanyaan saya. Saya ikut juga memperhatikan bekas makanannya, jangan-jangan memang ada jawabannya di situ, ups! hanya iseng. "Eee..mungkin sajaa..mungkin saja ada dewa atau apa." Dia menjawab juga akhirnya setelah beberapa menit walaupun tidak lengkap, padahal saya sudah tidak sabar untuk segera turun ke ruang kerja dan membuka mailbox. "Anda tahu? Bagi sebagian orang, dewa-dewa itu mereka anggap sebagai Tuhan." Kata saya setelah yakin dia tidak berniat melanjutkan jawabannya. "Saya tidak akan membahas dengan rinci tentang apa yang anda sebut dewa ini. Setiap penganut agama memiliki definisi yang berbeda-beda tentang Tuhan, tetapi dalam Islam kami yakin akan keberadaan satu Zat Yang Maha Perkasa, Yang Kekuasaannya teramat luar biasa bahkan melebihi apa yang bisa dibayangkan oleh manusia. Yang Mengatur alam semesta yang maha luas ini. Dan tentu saja Yang Mempunyai maksud dan tujuan dari penciptaan makhluk-makhluk-Nya." Saya kembali melihat jam. "Saya kira ’kita’ sudah menjawab pertanyaan anda tadi. Ok! kapan-kapan kita diskusi lagi, saya harus pergi sekarang." Kata saya sambil berdiri dan meraih baki yang berisi piring dan mangkok bekas makan saya tadi. "Baik Pak.." Jawabnya singkat dan pelan.

Saya kemudian berjalan meninggalkan laki-laki itu, entah apa yang dia fikirkan sekarang ini. Bagaimanapun juga saya tidak pernah berambisi mengubah keyakinan seseorang tentang suatu hal, tapi adakalanya saya ingin kita memikirkan kembali apa yang menurut pendapat kita benar.



Di dalam lift ketika turun, saya teringat akan beberapa terjemahan ayat Al-Qur’aan dalam surat Ali-Imran:

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS.3 : 190-191).

Thursday, June 16, 2005

INDAH

oleh Webmaster

Sebuah keindahan tidak selalu memaknai sebuah kebenaran
Melihat ke dalam lebih mencerminkan kehati-hatian
Merenung sejenak, bertanya kepada ruang
Fikirkan ketika hati jauh dari galau

Lazim jika inginkan keindahan itu melekat pada diri
Memilikinya untuk mengibaskan kegetiran
Memeluk perhatian, menyongsong tujuan
Tapi keindahan yang sejati selalunya berada di sanubari


QUALITY MANAGEMENT PRINCIPLES

oleh Webmaster



The following text is an integral reproduction of the content of the document "Quality Management Principles".

Introduction

This document introduces the eight quality management principles on which the quality management system standards of the revised ISO 9000:2000 series are based. These principles can be used by senior management as a framework to guide their organizations towards improved performance. The principles are derived from the collective experience and knowledge of the international experts who participate in ISO Technical Committee ISO/TC 176, Quality management and quality assurance, which is responsible for developing and maintaining the ISO 9000 standards.

The eight quality management principles are defined in ISO 9000:2000, Quality management systems Fundamentals and vocabulary, and in ISO 9004:2000, Quality management systems Guidelines for performance improvements.

This document gives the standardized descriptions of the principles as they appear in ISO 9000:2000 and ISO 9004:2000. In addition, it provides examples of the benefits derived from their use and of actions that managers typically take in applying the principles to improve their organizations' performance.


Principle 1: Customer Focus

Organizations depend on their customers and therefore should understand current and future customer needs, should meet customer requirements and strive to exceed customer expectations.

Key benefits:


  1. Increased revenue and market share obtained through flexible and fast responses to market opportunities
  2. Increased effectiveness in the use of the organization's resources to enhance customer satisfaction
  3. Improved customer loyalty leading to repeat business

Applying the principle of customer focus typically leads to:


  • Researching and understanding customer needs and expectations
  • Ensuring that the objectives of the organization are linked to customer needs and expectations
  • Communicating customer needs and expectations throughout the organization
  • Measuring customer satisfaction and acting on the results
  • Systematically managing customer relationships
  • Ensuring a balanced approach between satisfying customers and other interested parties (such as owners, employees, suppliers, financiers, local communities and society as a whole)

Principle 2: Leadership

Leaders establish unity of purpose and direction of the organization. They should create and maintain the internal environment in which people can become fully involved in achieving the organization's objectives.

Key benefits:


  1. People will understand and be motivated towards the organization's goals and objectives
  2. Activities are evaluated, aligned and implemented in a unified way
  3. Miscommunication between levels of an organization will be minimized

Applying the principle of leadership typically leads to:


  • Considering the needs of all interested parties including customers, owners, employees, suppliers, financiers, local communities and society as a whole
  • Establishing a clear vision of the organization's future
  • Setting challenging goals and targets
  • Creating and sustaining shared values, fairness and ethical role models at all levels of the organization
  • Establishing trust and eliminating fear
  • Providing people with the required resources, training and freedom to act with responsibility and accountability
  • Inspiring, encouraging and recognizing people's contributions

Principle 3: Involvement Of People

People at all levels are the essence of an organization and their full involvement enables their abilities to be used for the organization's benefit.

Key benefits:


  1. Motivated, committed and involved people within the organization
  2. Innovation and creativity in furthering the organization's objectives
  3. People being accountable for their own performance
  4. People eager to participate in and contribute to continual improvement

Applying the principle of involvement of people typically leads to:


  • People understanding the importance of their contribution and role in the organization
  • People identifying constraints to their performance
  • People accepting ownership of problems and their responsibility for solving them
  • People evaluating their performance against their personal goals and objectives
  • People actively seeking opportunities to enhance their competence, knowledge and experience
  • People freely sharing knowledge and experience
  • People openly discussing problems and issues

Principle 4: Process Approach

A desired result is achieved more efficiently when activities and related resources are managed as a process.

Key benefits:


  1. Lower costs and shorter cycle times through effective use of resources
  2. Improved, consistent and predictable results
  3. Focused and prioritized improvement opportunities

Applying the principle of process approach typically leads to:


  • Systematically defining the activities necessary to obtain a desired result
  • Establishing clear responsibility and accountability for managing key activities
  • Analysing and measuring of the capability of key activities
  • Identifying the interfaces of key activities within and between the functions of the organization
  • Focusing on the factors such as resources, methods, and materials that will improve key activities of the organization
  • Evaluating risks, consequences and impacts of activities on customers, suppliers and other interested parties

Principle 5: System Approach to Management

Identifying, understanding and managing interrelated processes as a system contributes to the organization's effectiveness and efficiency in achieving its objectives.

Key benefits:


  1. Integration and alignment of the processes that will best achieve the desired results
  2. Ability to focus effort on the key processes
  3. Providing confidence to interested parties as to the consistency, effectiveness and efficiency of the organization

Applying the principle of system approach to management typically leads to:


  • Structuring a system to achieve the organization's objectives in the most effective and efficient way
  • Understanding the interdependencies between the processes of the system
  • Structured approaches that harmonize and integrate processes
  • Providing a better understanding of the roles and responsibilities necessary for achieving common objectives and thereby reducing cross-functional barriers
  • Understanding organizational capabilities and establishing resource constraints prior to action
  • Targeting and defining how specific activities within a system should operate
  • Continually improving the system through measurement and evaluation

Principle 6: Continual Improvement

Continual improvement of the organization's overall performance should be a permanent objective of the organization.

Key benefits:


  1. Performance advantage through improved organizational capabilities
  2. Alignment of improvement activities at all levels to an organization's strategic intent
  3. Flexibility to react quickly to opportunities

Applying the principle of continual improvement typically leads to:


  • Employing a consistent organization-wide approach to continual improvement of the organization's performance
  • Providing people with training in the methods and tools of continual improvement
  • Making continual improvement of products, processes and systems an objective for every individual in the organization
  • Establishing goals to guide, and measures to track, continual improvement
  • Recognizing and acknowledging improvements

Principle 7: Factual Approach to Decision Making

Effective decisions are based on the analysis of data and information

Key benefits:

Informed decisions.


  1. An increased ability to demonstrate the effectiveness of past decisions through reference to factual records
  2. Increased ability to review, challenge and change opinions and decisions

Applying the principle of factual approach to decision making typically leads to:


  • Ensuring that data and information are sufficiently accurate and reliable
  • Making data accessible to those who need it
  • Analysing data and information using valid methods
  • Making decisions and taking action based on factual analysis, balanced with experience and intuition

Principle 8: Mutually Beneficial Supplier Relationships

An organization and its suppliers are interdependent and a mutually beneficial relationship enhances the ability of both to create value

Key benefits:


  1. Increased ability to create value for both parties
  2. Flexibility and speed of joint responses to changing market or customer needs and expectations
  3. Optimization of costs and resources

Applying the principles of mutually beneficial supplier relationships typically leads to:


  • Establishing relationships that balance short-term gains with long-term considerations
  • Pooling of expertise and resources with partners
  • Identifying and selecting key suppliers
  • Clear and open communication
  • Sharing information and future plans
  • Establishing joint development and improvement activities
  • Inspiring, encouraging and recognizing improvements and achievements by suppliers

(Source: http://www.iso.org/iso/en/iso9000-14000/understand/qmp.html)


Wednesday, June 15, 2005

PENGENALAN ISO 9001:2000

oleh Webmaster



ISO merupakan sebuah federasi internasional yang beranggotakan badan-badan standardisasi nasional dari negara-negara di seluruh dunia, saat ini anggotanya mencakup kurang lebih 149 badan standardisasi nasional. Organisasi ini didirikan pada tahun 1947 di London, Inggris, dan saat ini berkedudukan di kota Genewa, Swiss. Adapun tujuan pendiriannya adalah untuk mengembangkan standardisasi di seluruh dunia. Organisasi ini mulai beroperasi efektif pada tanggal 13 Februari 1947 dan sampai sekarang telah mengeluarkan lebih dari 13.000 Standar Internasional.

Di dalam badan ISO terdapat sejumlah Komite Teknis (Technical Committee) yang bertugas membuat berbagai standardisasi yang kelak diterapkan oleh setiap negara anggota ISO. Setiap anggota yang memiliki kepentingan terhadap suatu subyek yang akan dipersiapkan oleh Komite Teknis ISO, berhak menempatkan wakilnya di dalam komite tersebut. Selain itu organisasi-organisasi internasional lainnya, baik milik pemerintah maupun non-pemerintah yang berhubungan dengan ISO, juga diizinkan ikut ambil bagian dalam pekerjaan pembuatan standar internasional. Seperti dalam pekerjaan pembuatan standardisasi elektroteknik, ISO bekerjasama erat dengan Komisi Elektroteknik Internasional atau International Electrotechnical Commision (IEC). Setiap draft standar internasional yang dibuat oleh Komite Teknis ISO terlebih dahulu disosialisasikan kepada seluruh anggota federasi ISO, dan baru bisa diterbitkan setelah mendapat persetujuan sedikitnya 75% dari anggota federasi.[1]


Dengan pertimbangan bahwa nama lengkap organisasi yaitu The International Organization for Standardization jika disingkat akan memiliki bentuk yang berbeda-beda pada tiap-tiap negara anggotanya, maka ditetapkanlah kata "ISO" sebagai nama dari organisasi. Kata "ISO" yang menjadi nama dari organisasi ini berasal dari bahasa Yunani yaitu "Isos" yang berarti "sama" (equivalent). Dalam bentuk modern kata "Isos" kemudian ditransformasikan menjadi "Iso", seperti yang terdapat dalam istilah-istilah Isotermis (kesamaan panas), Isobar (kesamaan tekanan), dll. Kata ini diadopsi oleh Organisasi Internasional untuk Standardisasi menjadi nama dari organisasinya disamping karena kemiripan arti kata ini dengan tujuan organisasi, juga karena kata tersebut memiliki bentuk yang paling mendekati dengan singkatan nama organisasi.

Produk-produk ISO yang terkenal antara lain:


  • ISO 9000 Series yang memuat tentang standar Sistem Manajemen Mutu
  • ISO 14000 Series yang memuat tentang standar Sistem Manajemen Lingkungan
  • ISO TS 17025 yang memuat tentang standar Pengujian dan Kalibrasi di Laboratorium
  • ISO TS 16949 yang memuat tentang standar Sistem Manajemen Mutu di industri otomotif
  • ISO 19011 yang memuat tentang standar Audit Sistem Manajemen Mutu dan Lingkungan, standar ini digunakan untuk menggantikan ISO 10011 (Audit Sistem Manajemen Mutu) dan ISO 14010, ISO 14011, ISO 14012 (Audit Sistem Manajemen Lingkungan)

ISO mempunyai tiga misi utama, yaitu:


  1. Mengembangkan standar internasional
  2. Menyebarkan informasi tentang standar internasional
  3. Mempromosikan penerapan standar internasional [4]

Sejarah Perkembangan ISO 9000

Sejak tahun 1947 federasi ISO memiliki visi untuk membuat satu standar Pemastian Mutu (Quality Assurance) yang dikemudian hari juga dikenal dengan istilah Sistem Manajemen Mutu (Quality Manajemen System). Standar mutu ISO dikembangkan dari standar-standar mutu yang telah ada dan digunakan secara luas. Pada tahun 1963, ISO mengadopsi standar mutu milliter, MIL-Q-9858A yaitu Persyaratan Program Mutu (Quality Program Requirements) dari USA dan standar mutu AQAP 1 milik NATO untuk standar Pemastian Mutunya. Pada tahun 1972, ISO mengadopsi standar BS 4891 (Brithis Standard) yaitu Pedoman untuk Pemastian Mutu (A Guide to Quality Assurance) dari Inggris. Kemudian berturut-turut pada tahun 1975 dan tahun 1979 mengadopsi lagi BS 5179 dan BS 5750. Beberapa tahun kemudian dibentuklah Komite Teknis ISO/TC 176 yang bertugas membuat satu draft standar Pemastian Mutu dan Manajemen Mutu. Komite ini terdiri atas wakil-wakil dari ISO, IEC dan BSI (British Standard Institute). Dengan mengambil sejumlah standar-standar nasional negara anggotanya seperti; BS 4891 & BS 5750 (Inggris), AFNOR Z50-110 (Perancis), DIN 55-355 (Jerman), ANSI/ASQC Z-1.15 & ASME NQA-1 (USA) sebagai bahan dasar untuk pembuatan draft standar tersebut.[6]

Pada tahun 1987 komite ini berhasil merampungkan tugasnya dan menerbitkan ISO 9000 Series yang kemudian dikenal sebagai ISO 9000 versi 1987. Pada tahun-tahun berikutnya ISO berusaha untuk terus menyempurnakan ISO 9000 Series (1987). Adanya sejumlah kategori yang belum dimasukkan kedalam ISO 9000 Series, kecenderungan kompetisi global dan kebutuhan akan keberterimaan secara universal, mendorong organisasi ini terus berupaya menyempurnakan ISO 9000 Series.

Pada tahun 1994, Komite Teknis ISO berhasil menyelesaikan tugasnya dan menerbitkan versi terbaru dari ISO 9000 series yang kemudian dikenal sebagai ISO 9000 versi 1994. Perbedaan antara ISO 9000 versi 1987 dengan ISO 9000 versi 1994 tidaklah begitu besar. Sebagaimana pendahulunya (ISO 9000 versi 1987), ISO 9000 versi 1994 masih menggunakan seri ISO 9001, ISO 9002 dan ISO 9003 sebagai bagian dari keluarga ISO 9000 Series. Namun demikian pada ISO 9000 versi 1994 terdapat sejumlah penambahan standar-standar pelengkap untuk beberapa jenis (kategori) produk dan industri yang belum tercakup dalam ISO 9000 versi 1987. Selain itu pada ISO 9000 versi 1994, ditegaskan bahwa sertifikasi ISO hanya diberikan untuk ISO 9001, ISO 9002 dan ISO 9003.

Bersamaan dengan promosi dan implementasi ISO 9000 versi 1994 secara global, ISO terus melakukan perbaikan terhadap ISO 9000 versi 1994. Sejumlah alasan dari upaya ini antara lain; adanya kebutuhan akan peningkatan kepentingan para pengguna ISO 9000 dan pelanggannya, manajemen yang berorientasi pada proses, peningkatan orientasi pada industri manufaktur, terlalu banyak standar manajemen dan pedoman yang digunakan, dan keinginan meningkatkan dari sekedar sertifikasi ke arah Perbaikan Kinerja (Performance Improvement). Oleh karena itu ISO mempunyai sejumlah visi untuk tahun 2000 (Vision 2000) yaitu; adanya satu standar manajemen mutu, satu standar persyaratan pemastian mutu dan satu standar "Peta Jalan" (penjelasan umum).

Pada tahun 2000, Komite Teknis ISO berhasil menyelesaikan tugasnya dan menerbitkan ISO 9000 Series versi 2000 yang lebih dikenal sebagai ISO 9000:2000. Kali ini perubahan yang terjadi pada ISO 9000 Series cukup besar dan penting (significant).

Pada ISO 9000:2000 dimasukkan Prinsip-Prinsip Manajemen Mutu (Quality Management Principles) sebagai dasar dalam melaksanakan Sistem Manajemen Mutu. Istilah Subcontractor yang sebelumnya digunakan pada ISO 9000 versi 1994 digantikan dengan istilah Supplier, sedangkan istilah Supplier digantikan dengan istilah Organization. Selain itu istilah Quality Assurance pada ISO 9001 tidak digunakan lagi dan digantikan dengan istilah Quality Management System Requirements.

ISO 9000:2000 juga melebur ISO 9001, ISO 9002 dan ISO 9003 menjadi satu standar persyaratan pemastian mutu yaitu ISO 9001:2000 (ISO 9001:2000 adalah salah satu keluarga dari ISO 9000:2000). Sebelumnya pemilihan penggunaan standar persyaratan pemastian mutu didasarkan pada model aktivitas/proses tertentu yang dilakukan oleh perusahaan. Sehingga untuk perusahaan yang melakukan aktivitas desain/pengembangan, produksi (pengendalian proses), instalasi/pembelian dan servis harus menggunakan ISO 9001. Sedangkan untuk perusahaan yang tidak melakukan aktivitas desain tapi hanya melakukan aktivitas produksi, instalasi dan servis harus menggunakan ISO 9002. Selanjutnya untuk perusahaan yang tidak melakukan aktivitas desain, produksi, instalasi dan servis (misal: perusahaan yang hanya melakukan aktivitas training atau inspeksi dan pengujian saja) harus menggunakan ISO 9003. Sementara itu berdasarkan ISO 9000:2000 semua perusahaan tanpa memperhatikan aktivitas yang dilakukan dan produk yang dihasilkan, cukup menggunakan satu standar persyaratan pemastian mutu atau persyaratan sistem manajemen mutu yaitu ISO 9001:2000. Namun demikian ada satu persyaratan dalam ISO 9001:2000 (Pasal 7: Product Realization, red) yang penggunaan klausul-klausulnya boleh dikecualikan sesuai dengan aktivitas-aktivitas yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh perusahaan yang bersangkutan.

ISO 9001:2000 lebih memfokuskan diri pada Perbaikan Kinerja (Performance Improvement), penggunaan struktur baru yang didasarkan pada Pendekatan Proses (Process Approach), pengurangan prosedur terdokumentasi, penekanan pada pemenuhan kepuasan pelanggan, analisa data untuk perbaikan dan peningkatan kesesuaian dengan standar Sistem Manajemen Lingkungan (ISO 14001). Pada ISO 9000 Series versi 1994, ISO 9004 (yang merupakan salah satu keluarga dari ISO 9000) digunakan sebagai pedoman (guidelines) dalam melaksanakan ISO 9001, ISO 9002, dan ISO 9003. Sedangkan pada ISO 9000:2000, ia merupakan satu standar atau pedoman tersendiri untuk melakukan Perbaikan Kinerja dan bukan merupakan pedoman dalam melaksanakan ISO 9001:2000.

Sebagian besar pasal-pasal dalam ISO 9000 Series versi 1994 masih dipertahankan dan digunakan dalam ISO 9000:2000. Hanya saja struktur dan penomorannya disempurnakan, beberapa klausul disederhanakan dan digeneralisasi, kemudian dilakukan penambahan beberapa klausul yang berkaitan dengan interaksi antar proses, perbaikan kinerja, komunikasi (baik internal maupun eksternal) dan pengukuran kepuasan pelanggan.

Keluarga ISO 9000:2000 terdiri dari:


  1. ISO 9000 yang memuat tentang Dasar-Dasar dan Istilah untuk Sistem Manajemen Mutu
  2. ISO 9001 yang memuat tentang Persyaratan-Persyaratan Sistem Manajemen Mutu
  3. ISO 9004 yang memuat tentang Panduan untuk Perbaikan Kinerja
  4. ISO 19011 yang memuat tentang Panduan dalam Audit Sistem Manajemen Mutu dan Sistem Manajemen Lingkungan

Manfaat Penerapan ISO 9001:2000

Dari semua anggota keluarga ISO 9000:2000, hanya ISO 9001 yang memuat persyaratan-persyaratan ISO 9000:2000. Oleh karena itu sertifikasi ISO 9000:2000 (yang bersifat kontraktual) hanya diberikan untuk ISO 9001. Jadi meskipun suatu perusahaan berhasil melakukan peningkatan kinerja, kemudian menerapkan ISO 9004 hingga mencapai Performance Excellence, namun sertifikasi yang bisa dimilikinya tetap hanya sertifikasi ISO 9001:2000.

Sebuah organisasi/perusahaan yang menerapkan ISO 9001:2000 akan memperoleh sedikitnya 8 manfaat:


  1. Dokumentasi mutu yang lebih baik
  2. Pengendalian mutu secara sistematik
  3. Koordinasi yang lebih baik
  4. Deteksi awal ketidaksesuaian
  5. Konsistensi mutu yang lebih baik
  6. Kepercayaan pelanggan bertambah
  7. Disiplin dalam pencatatan mutu bertambah
  8. Lebih banyak kesempatan untuk peningkatan [4]

The Consistent Pair

ISO 9001 merupakan sebuah standar yang terfokus pada proses-proses yang memberikan keyakinan bahwa persyaratan pelanggan terhadap mutu suatu produk akan terpehuhi. Sedangkan ISO 9004 memberikan panduan dalam peningkatan secara berkesinambungan proses-proses manajemen mutu dan kinerja yang mengarah pada kesempurnaan bisnis (performance excellence).

ISO 9004 merupakan sarana penghubung atau panduan bagi perusahaan yang telah menerapkan ISO 9001 dalam menuju kesempurnaan kinerja. Oleh karena itu ISO 9004 merupakan pasangan yang serasi dengan ISO 9001, hal ini diistilahkan dengan The Consistent Pair. Selanjutnya dengan didukung oleh ISO 9000 dan ISO 19011, kedua pasangan ini akan menyediakan kerangka kerja bagi keyakinan dan kesempurnaan bisnis perusahaan.[2]

Prinsip-Prinsip Manajemen Mutu

Untuk memimpin dan menjalankan suatu organisasi dengan sukses, para pemimpin (manajemen) harus melakukannya dengan cara-cara yang sistematik dan jelas. Sukses dapat dihasilkan dari implementasi dan pemeliharaan sebuah sistem manajemen yang dirancang untuk perbaikan kinerja (performance improvement) secara berkesinambungan.[1]

ISO memperkenalkan 8 prinsip manajemen mutu yang dapat digunakan oleh manajemen puncak suatu perusahaan dalam memimpin dan mengelola organisasinya ke arah perbaikan kinerja:


  1. Organisasi yang terfokus pada pelanggan
  2. Kepemimpinan
  3. Keterlibatan semua karyawan
  4. Pendekatan Proses
  5. Pendekatan sistem dalam manajemen
  6. Peningkatan berkesinambungan
  7. Pendekatan secara fakta dalam membuat keputusan
  8. Hubungan saling menguntungkan dengan pemasok [1]

Dasar Model Proses ISO 9001

Struktur ISO 9001:2000


  1. Ruang Lingkup
  2. Referensi Standar
  3. Istilah dan Definisi
  4. Sistem Manajemen Mutu
  5. Tanggung Jawab Manajemen
  6. Manajemen Sumber Daya
  7. Realisasi Produk
  8. Pengukuran, Analisa dan Perbaikan
  9. Lampiran A & B [2]

ISO 9001:2000 menganggap semua persyaratan/ pasal-pasalnya merupakan kumpulan proses-proses, oleh karena itu pemenuhan persyaratan-persyaratan ISO 9001:2000 juga dilakukan dengan metode pendekatan proses atau penerapan proses demi proses. Berbeda dengan ISO 9000 versi 1987 dan ISO 9000 versi 1994, yang pemenuhan persyaratan-persyaratannya dilakukan dengan menggunakan metode penerapan pasal demi pasal.

Di dalam ISO 9001:2000, yang menjadi persyaratan hanyalah pasal 4: Sistem Manajemen Mutu, pasal 5: Tanggung Jawab Manajemen, pasal 6: Manajemen Sumber Daya, pasal 7: Realisasi Produk, dan pasal 8: Pengukuran, Analisa dan Perbaikan. Sehingga suatu perusahaan yang ingin menerapkan ISO 9000:2000 atau ingin mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2000, cukup dengan menerapkan kelima pasal tersebut.

Untuk dapat berfungsi secara efektif, suatu organisasi harus mengidentifikasi dan mengelola semua proses yang saling berkait dan berinteraksi satu sama lainnya dalam organisasi itu. Identifikasi dan pengelolaan secara sistematik proses-proses yang digunakan oleh sebuah organisasi terutama interaksi antar proses-proses tersebut dikenal dengan istilah Pendekatan Proses.[2]


Referensi


  1. "Quality Management Sytems - Fundamentals and Vocabulary", International Standard ISO 9000, 2nd ed. (2000), ISO
  2. "Quality Management Sytems - Requirements", International Standard ISO 9001, 3rd ed. (2000), ISO
  3. Beaumont, L.R. (2000), ISO 9001 The Standard Illustrations, 3rd ed., ISO Easy
  4. "ISO 9001:2000 Interpretation", (2000). Aims Consultants
  5. "Assessment and Implementation to ISO 9001:2000 Series", Quality Management Sytems 3rd ed. (1995), IQCS Certification
  6. Hutchins, Greg (1993), ISO 9000, Oliver Wight Pub. Inc

Related Library Links: http://www.iso.org/